Selasa, 03 April 2012

Selasa, April 03, 2012 - No comments

Menuju Konspirasi Dua Satu

Dua dan satu. Dua buah angka fenomenal teruntuk seseorang seperti aku. Kata siapa hati nggak pernah bicara. Justru dia lah yang paling banyak bicara dibandingkan indera pengecap. Hanya suara-suaranya tak bisa didengar selain si pemilik hatinya.

Hati disini bukanlah hati si alat detoksifikasi dalam tubuh manusia. Melainkan hati yang tak bisa dilihat tapi dapat dibenarkan keberadaannya. 

Jarum jam bekerja rodi mengelilingi sudut jam. Kalender demi kalender sudah terganti dengan barunya di dinding. Hatiku pun tak mau ketinggalan unjuk gigi. Semakin hari semakin cerewet hati ini. Selalu saja dia giat berbicara, meskipun hanya diriku yang mendengar dan merasakan. Dia selalu memojokanku

"Dua satu, dua satu, dua satu!!"

Hufhh,, "Yaa yaa yaa" mungkin itulah jawaban langganan untuk hati kecilku.

Seakan malaikat baik, seisi pikiran dalam otakku mendinginkan suasana. Sekarang giliran otakku yang berceloteh,

"Aku terlalu penuh memikirkan hal yang mungkin hanya aku yang bisa melakukannya, menyimpan seluruh memori. Aku semakin terhimpit dengan mimpi-mimpi dan kemauan-kemauan tinggi yang ingin diraih. Betapa lelahnya menjadi aku (otak), terlebih melihat sekeliling diri ini telah meraih mimpi-mimpi mereka. Dan kini mengapa kau (hati) menyudutkanku di sudut lebih dari 90 derajat??".

Sebuah perang dingin berkecamuk dalam raga. Semakin gundah aku membedakan antara suara hati kecilku dan isi pikiranku. Mungkin butuh waktu untuk menyelaraskan dan menyatukan dua komponen ini, hati dan otak. Terlalu banyak tujuan, mimpi dan kemauanlah yang membuat angka dua satu seakan fenomenal bagiku. Di angka yang dimulai dengan angka dua ini, aku belum juga merasakan sebagai orang berproduktif. Aku masih berjalan di atas skenario yang begitu monoton, dengan mimpi-mimpi ku yang masih melambai-lambai di ujung jalan sana.

0 komentar:

Posting Komentar