Minggu, 14 Oktober 2012

Minggu, Oktober 14, 2012 - 6 comments

1 2 3 4, I Love You


video

Empat taun silam lagu ini berkibar, udah dihinggapi laba-laba kali yaa. Pola sarangnya aja udah mulai keliatan *si sotoy mulai gerak*. Plain White T'S. Si yang punya lagu ini berhasil ngambil hati dan perhatian ku lewat lagu ini *1 2 3 4 I Love You*

Meskipun lagu jebolan 2008, yaa,,,, tapi feel lagunya masih dapet lah yaa. Ayook kita berhitung, 1, 2, 3 ,4. Stop!! Cukup sampai 4, ini bukan kelas matematika jadi ada baiknya nggak usah dilanjutin. Hahaha. Ada 4 kata buat lagu ini. 

Unique. Itu kata pertama buat lagu ini. Ada kolaborasi antara angka dan kata dalam lirik lagu ini. Alhasil bisa bikin yang denger berkata "Aku meleleh" *lebay maju jalan* Hahahh. Intro lagu ini juga unik, berasa terbang di jaman klasik. Konsep video nya juga nggak kalah unik sama lirik lagunya.

Amazing. Kata selanjutnya yang bisa aku nilai buat lagu ini. Nggak tau kenapa pertama denger langsung gedebug cintrong aka jatuh cinta (sesuai judul yaa). Tanpa ngeliat tampang fisik dari personilnya. Objective berarti yaa aku...

Lovely. Kata ketiga buat lagu ini. Cinta. Hidup memang nggak pernah jauh dari 'makhluk' yang satu ini. Lagu cinta romantis tapi nggak lebay. Nggak cengeng, nggak girang juga. Kira-kira seperti itulah gambaran lagu itu tapi versi aku yaa, nggak tau deh kalau yang lain denger, hahhaah. 

No. No command again. Itu mungkin lebih tepat dan lengkapnya. Aku kehabisan kata-kata buat lagu ini. Essentially, 1 2 3 4 I Love You.



Dan cuplikan bait lirik lagu ini nggak ada capenya lari-lari di pikiranku... Hahaaa

There’s only one thing to do
three words for you I love you

There’s only one way to say

Those three words and that’s what I’ll do, I love you
I love you
You make it easy, it’s easy as 1, 2, 1, 2, 3, 4







post signature

Sabtu, 06 Oktober 2012

Sabtu, Oktober 06, 2012 - 4 comments

Surat Dilematisme: Kala Gayung Tak Bersambut

Dear, Gayung.

Dengar. Lihat. Dan rasakan.
Aku ada disini.

Disini, dengan bukan hanya aku saja yang berdiri. Di sekelilingku ada dia dan mereka.

Semuanya mengerucut dalam satu tujuan yang sama. Termasuk aku tanpa ada sebesit kemunafikan.

Mungkin aku terlihat serupa dengan di sekelilingku. Ketika sela-sela kosong dalam sebuah penantian panjang, sekuat tenaga ku rajut asa untuk berbeda dengan dia dan mereka. Bukan bermaksud membusungkan dada. Ini semata-mata aku hanya ingin ada suara bergemericik yang membunuh keheningan.

Apakah kau tau, kian lama keheningan diam-diam membunuhku. Benar adanya, tak ingin ku hanya diam atau mengalir tanpa suatu arah yang tak pasti, dengan waktu yang tak ku tau ujungnya. Ingat, aku dan mereka berada dalam ruang yang sama, ruang yang sesekali akan menghilangkanku ketika kau tak datang.

Jangankan wujud kasat mata mu, ketika siluet mu merabaku langit serasa sejuk kupeluk. Terdengar suara yang tak ku tau asalnya mencuat di atas permukaan, "Akhirnya kau datang". Namun, ketika siluet itu menikung dan membelakangiku. Tiada guna untuk menjadi lebih jernih diantara mereka, bahkan di antara kumpulan kristal cantik sekalipun.

Kala matahari memelukku pun tak sedikitpun terlintas untuk lepas dari jeratan teriknya. Rapuh. Dan hilang sudah kekuatanku tuk menggenggammu. Ketika pergi melambaikan perpisahan, dan saat itu pula datang kan menyapa. Selebihnya diam dan menanti, menanti serbuan rintik nyawa yang jatuh dari langit. Kelak mungkin menjadi suntikan nyawa tambahan atau bahkan kekuatan. Mereka datang seperti itu karena aku, KARENA LANGIT TAK PERNAH BOHONG.


Aku pun akan tetap bergemiricik di atas puing kekuatan ini. Seperti mereka yang kau sambut dengan lembutnya. Hanya sebuah sudut yang entah kau bisa rasakan atau tidak, yang akan mendengar gemericikku. Aku tau ini bukan bergemericik yang kuharapkan, begitu juga kau. Karena aku bukanlah yang kau harapkan.

Mengalir dan mengalir. Namun aku mengalir bukan sebagai AIR BIASA seperti sedia kala. Kini aku mewakilkan ekspresi yang kadang bersembunyi di balik sandiwara. Aku datang seperti ini karena mu, KARENA HATI TAK PERNAH BOHONG.

Ketika kau bertanya-tanya seberapa besarkah aku ----- (entah harus kusebut apa) padamu, lihatlah aku di balik jendela yang memandang langit kelabu. Hitunglah aku yang jatuh dengan derasnya.

Ketika kau mengabaikan semua ini, lihatlah aku di jutaan sudut pasang mata yang memancarkan sinar tak berdaya. Dan kau tak perlu menghitung nya, itu akan menyulitkanmu kelak.




Tertanda,
- SETETES AIR-


post signature






Rabu, 03 Oktober 2012

Rabu, Oktober 03, 2012 - 2 comments

Ketika Suatu Kesamaan 'Menggaet' Perbedaan












Ada hitam, ada putih.
Ketika jahat pergi, maka datanglah kebajikan.
Begitu juga ketika dibalik kesamaan tentu terselip sebuah perbedaaan.

Lihat pelangi.
Memang, akhir-akhir ini kuakui tak pernah sedikitpun mengintip indahnya pelangi. Bukan karena ke 7  bidadari yang mungkin sedang malas mandi di sungai, tentu ada alasan non fiksi di balik tanya besar tentang 'si pelangi'.
Namun, terkadang ada pasukan gombal menyeru, "Aku tak perlu melihat pelangi, karena aku mampu melihat pelangi setiap saat dan kapanpun di raut wajahmu."  


Hhhssss,
Kalau sekarang kita berimajinasi. Indah manakah, pelangi dengan 7 warna atau pelangi dengan 1 warna? Aku lebih memilih pelangi dengan 7 warna. Justru dengan adanya perbedaan itulah, pelangi menjadi panorama terindah ketika hujan melambaikan tangan untuk pergi. Berbeda dengan nasib pelangi 1 warna, rasanya hambar untuk lama-lama melihatnya. Lantas apakah yang membuat kata 'indah' keluar dari mulut kita tentang paradigma sebuah pelangi?

Karena 7 warna itu saling melengkapi yang tidak dimiliki di antara mereka. Kuning. Dia tampak menyilaukan bagi mata yang melihatnya. Namun berkat pancaran warna biru yang sedikit meredup, membuat siapapun yang memandangnya akan sedikit melepas lega dari kesialauan. Tersirat unsur 'balance' diantara spektrum -spektrum tersebut. Tak ada rasa jenuh untuk lagi, lagi dan lagi melihat 'si pelangi'.


Bergitupun kita, antara 1 orang dengan yang orang yang lainnya. "Aku nampak sangatlah berbeda denganmu, kau punya segalanya dan aku tidak." Selalu saja, perbedaan menjadi 'kambing hitam' sebagai pemicu konflik, entah konflik fisik maupun batin .

Tak hanya konflik, terkadang perbedaan menjadi alasan untuk menghambat seseorang dalam menuntaskan keinginan terpendamnya. Tiba-tiba hatinya yang dulu sekuat baja, kini menciut bagai plastik. Sepertinya 'perbedaan' perlu diberi applause. Dia mampu mengendalikan keadaan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Sungguh ironis rasanya.

Kini, aku hanya ingin seperti pelangi.
Ketika perbedaan bukan menjadi satu-satunya alasan untuk membatasi apapun.
Kelak, hidup ini akan indah dengan hiasan dari manik-manik perbedaan yang kita miliki. Tunjukkan pada dunia, bahwa kita mampu memalingkan dunia dengan perbedaan kita. Perbedaan akan hadir saling melengkapi diantara celah-celah ketika jenuh kian melanda. Dengan perbedaan kita akan menjadi kuat, karena sebelumnya kita telah diuji dengan usaha untuk merekatkan diantara manik-manik perbedaan menjadi satu kesatuan. Dan kita akan menyerukan:

"Karena perbedaan kita menjadi lebih kuat, dengan kekuatan kita menjadi jauh lebih Indah"
  


post signature