Rabu, 20 Maret 2013

Rabu, Maret 20, 2013 - No comments

Dan Ini 'mondok' Cara Gue

Kurang lebih 9 tahun yang lalu. Sudah terlalu usang memang. Berdebu pula Hahaha.. Kira-kira saat itu aku masih bau kencur. Anak baru gede. Anak jebolan Sekolah Dasar. Yaa begitulah orang-orang mengatakannya. Saat itu, aku direkomendasikan oleh ayahku untuk 'mondok'. Di waktu yang sudah lama, ayahku hidup dan bergaul dengan para santri. Rumah kedua orang tua ayahku dikelilingi dengan pondok pesantren. Desa Ciwaringin di salah satu Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Desa ini terkenal dengan bangunan pesantren yang seakan 'menjamur' untuk menciptakan lulusan santri berakhlaqul karimah. Beliau memang tidak 'mondok' dan beliau pun sadar ilmu agama Islam yang dimilikinya tidak terlalu tinggi. Tak pelak beliau menginginkan salah satu anaknya menjadi santri. Memiliki 'bekal' ilmu agama yang lebih tinggi untuk menyongsong masa depan yang menurutnya cukup 'mengerikan'.  

Bukan aku tidak ingin menjadi anak yang memiliki ilmu agama lebih tinggi. Namun, pandanganku saat itu 'mondok' bukanlah hal yang aku suka. Melirik pun serasa tidak ingin. Bahkan terlintas dipikiranku pun, tidak. Ketika bersilaturahmi ke rumah nenek, jejeran bangunan  pondok seakan bangunan biasa bagiku. Tak ada chemistry atau daya tarik magnet yang mengalir. Mungkin karena saat itu aku masih kecil, aku berpendapat bahwa 'mondok' adalah hal yang nggak asik. Harus jauh dari orang tua. Tak ada kebebasan waktu. Semuanya diatur dan terikat. Dan akhirnya aku pun berusaha untuk masuk Sekolah Menengah Pertama favorit di Kota Cirebon. Allah SWT pun melancarkan rencanaku. Alih-alih telah diterima di 'sekolah favorit', aku menolak untuk masuk pondok pesantren. Menurutku sekolahku lebih bergengsi. Lantas, untuk apa aku 'mondok' toh di sekolah pun menyodorkan pelajaran agama islam. Astagfirulloh.. Bukan karena ayahku takut dengan anaknya, namun beliau hanya tak ingin memaksa kehendak pada anak perempuan satu-satunya. Hingga SMA pun aku bersekolah dengan notabene-nya hanya menerapkan ilmu agama yang standar. Sebagimana mestinya sekolah umum, bukan sekolah swasta yang berbasis agama islam.   

Dan kini setelah aku berumur 21 tahun. Dahaga akan ilmu Allah SWT semakin menggerogotiku. Tak mungkin aku harus mengabdikan diri pada pondok pesantren dengan umurku yang sudah menginjak kepala dua. Terlebih aku sedang menekuni ilmu sainsku di salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah. Dehidrasi ini datang ketika aku berada di detik-detik aku akan mengabdikan ilmuku di masyarakat. Dan titik cahaya pun datang dengan syahdunya. Tak jauh-jauh dari hobby-ku. Aku mendapatkan setetes embun yang mampu membasahi dahagaku. Awalnya aku memang tidak tertarik dengan karya-karya fenomenal kang abik. Yup, siapa sih yang tidak mengenal beliau. Salah satu novelis nomer wahid di negeri ini, Habiburahman El Shirazy *standing applause*. Dahulu, karya-karya beliau baik dalam bentuk film ataupun novel, tak pernah aku meliriknya. Aku lebih tertarik dengan hal-hal berbau negerinya boyband dan girlband. Korea Selatan Hahahah. Rasanya aku mendopping diriku sendiri dengan sejuta cerita dari negeri itu.

Namun, berawal dari aktivitasku berselancar di dunia maya. Aku iseng menonton salah satu film karya kang abik, sebutan akrab beliau. Tak hanya air mata yang mampu mewakilkanku untuk berkomentar. Hatiku dan mulutku mampu sinkron untuk mengatakan, Subhanalloh. Heiiii raniiiii, kemana saja kamu selama ini, helloooo, begitulah benakku berteriak. Mungkin, selama ini aku bersembunyi di balik tempurung, hingga aku tak sadar keberadaan karya-karya seperti itu. Memang terdapat unsur drama di dalam karya beliau. Namun drama itu terbungkus rapi dalam balutan nuansa islami. Diperindah dengan pesan-pesan moral yang sarat akan makna kehidupan, namun tidak menggurui. Dan Itulah yang aku suka. Terlebih dicetak dalam bentuk novel dan film. Dua icon yang mungkin tak bisa lepas dari sosok aku, hehehe. Sambil menyelam minum air, seperti itu kiasan yang pantas untukku sekarang.

Di satu sisi aku menikmati sebuah seni dan indahnya sebuah sastra. Di sisi lain aku mendapatkan beberapa ilmu agamaku, islam. Yaa.. hingga saat ini aku baru menghatamkan 1 novel beliau, Cinta Suci Zahrana. Dan melahap film-film garapan beliau seperti Ayat-ayat Cinta, Dalam Mihrab Cinta, Ketika Cinta Bertasbih part 1 dan 2. Alhamdulilah..... Walau tak segunung, namun setidaknya aku mendapatkan yang selama ini aku dambakan. Rasanya tak sabar aku menunggu kaya-karya beliau lainnya.  Insyaallah aku akan 'mondok' pada karya-karya beliau, atau mungkin karya-karya cendekiawan lainnya. 

Source: www.lokerseni.web.id

post signature

Kamis, 07 Maret 2013

Kamis, Maret 07, 2013 - 4 comments

Other Sides of the Scientist (part 1)

video

Sudah cukup lama ini aku mengakui bahwa aku telah jatuh cinta. Yup, I'm fallin in love. Aku sebenarnya jatuh cinta dengan salah satu band asal Negeri Elisabeth, COLDPLAY. Alunan rock alternatif mereka mampu membius dan memalingkanku dari band kece lainnya. Dan salah satu lagu yang menjadi top list di winamp ku adalah THE SCIENTIST. Menurutku, judul yang mereka tawarkan cukup unik. Terlebih alunan piano yang dimainkan Chris Martin cukup memukau dan mampu membuatku bertahan lama memasang headset. Kuakui lagu ini memang lagu yang banyak diminati khalayak muda seperti aku, hahaha. Kendati lagu ini pun masih mengusung tema klasik yang tak jauh dari persoalan cinta. Yaa.. memang cinta selalu menyimpan sejuta hal yang selalu ada saja yang bisa diceritakan. It's power of love *asiiikk*


Tapi, bukan itu saja yang aku sorot selama ini. Terkadang setiap aku mendengar lagu ini, aku teringat dengan background diriku sendiri. Scientist. Yaaa, ketika aku lulus nanti akan ada embel-embel S.Si tepat dibelakang namaku. S.Si tidak lain adalah Sarjana Science, sebuah title S1 dari kampus dimana aku menimba ilmu. Aku memang berasal dari jurusan ilmu sains, tepatnya biologi murni. Tidak dapat dipungkiri pula bila follow up dari kampusku adalah menjadi seorang scientist atau ilmuan.  Sebenarnya profesi seperti  ini bukanlah impianku. Benar-benar tak pernah dibayangkan oleh aku sebelumnya, bahkan ketika menulis cita-cita sewaktu aku SD. Namun, apalah dayaku. Nasi sudah menjadi bubur. Toh aku sudah bertahan di kampus ini hampir 4 tahun. Dan aku pun tak bisa mengelak apalagi menghindari hal yang berbau scientist. Lihat saja ketika aku masih semester 5. Aku dengan beraninya mencoba PKL (Praktek Kerja Lapangan) di salah satu lembaga riset milik pemerintah di Jakarta. Bermodalkan niat, ilmu seadanya dan segudang nekat, maka jadilah aku seorang scientist muda *agak berlebihan sepertinya*.


















Aku memang si bolang, si bocah petualang. Berbicara realita, sebenarnya nggak sepenuhnya aku berjiwa mandiri. Aku masih termasuk dalam kategori anak yang manja. Namun ku akui ada hasrat ingin menjadi pribadi yang lebih mandiri. Maka dari itu aku berani memutuskan untuk PKL di Jakarta. Padahal disana tak ada satupun keluargaku disana. Untung saja aku bersama sahabatku. Jadi aku tidak merasa kesepian ataupun ketakutan selama 1 bulan lebih disana, terhitung sejak akhir Januari hingga akhir Februari. Dan itu menjadi pengalaman terhebat versi diriku sendiri. Hal itu tidak lain karena aku mencapai targetku untuk mengkoleksi pengalaman beserta menjelajahi tiap jengkal daratan di muka bumi ini. Finally, I got you Jakarta!!

Begitu banyak cerita dari ranah betawi yang aku pun terkadang ingin tertawa sendiri mengingatnya. Hahaha. Mikrobiologi Lingkungan, merupakan bidang kajian PKL ku saat itu. Menurutku itu terlalu hebat dan menakutkan bagi aku yang bisa dikatakan masih anak bawang. Namun, itulah aku. Bukan Maharani Nursyamsu jika aku tidak berani menerima tantangan. Dibalik tembok gedung LIPI Oceanografi Ancol Jakarta, begitu banyak cerita suka dan duka yang terukir. Diantara ketiga sahabatku, hanya diriku yang bekerja paling lama hampir 1 bulan lebih. Air mata pun tak terelakkan. Rasa putus asa pun sempat menghampiriku saat itu. Namun Allah SWT memang sutradara terbaik di jagad raya ini. Atas izin Allah SWT. akhirnya aku bisa menyelesaikan PKL beserta laporan hasil PKL ku, yang berjudul Analisis Kemampuan Bakteri Hidrokarbonoklastik Menghasilkan Biosurfaktan Untuk Agen Bioremediasi.

Inilah cerita pertama diriku yang berperan sebagai scientist *gaya nya setinggi langit*. Next, cerita apa lagi yang akan berkumpul bersama pengalaman-pengalaman ku sebelumnya? Kota mana lagikah yang akan aku jelajahi??? Hhmmm rasanya aku tak sabar menanti rencana indah dari Allah SWT.


post signature


Selasa, 05 Maret 2013

Selasa, Maret 05, 2013 - No comments

Dari Tulisan, Oleh Tulisan, Untuk Tulisan

source image: http://thedictionaryprojectblog.com
Dengan kata-kata aku bisa mengubah dunia. Begitulah sebuah petikan yang bersarang dalam pikiranku. Hakikatnya itu merupakan kalimat yang diagung-agungkan oleh seorang jurnalis. Sebuah profesi yang memang bekerja dan berkecimpung tak jauh dari sebuah tulisan. Sebuah profesi yang menjadi salah satu bagian dari list impian profesiku di masa depan. Selain menjadi duta besar untuk salah satu negara ataupun seorang ahli gizi. Yaa... walau kini aku tak mengambil jurusan ilmu komunikasi dalam jenjang S1 ku. Apalagi jurusan hubungan internasional dan ilmu gizi yang seakan jauh dari pelupuk mata. Memang garis takdir telah menentukan jalan hidupku yang lain. Aku terdampar dalam jurusan biologi murni. Hampir tidak ada kaitannya dengan minatku.

Aku memang tertarik atau mungkin aku telah jatuh cinta dengan MENULIS. Kata-kata yang melahirkan sebuah kalimat dan berujung pada sebuah tulisan telah menjadi sahabat hidupku. Walau aku berada dalam lingkup biologi, aku masih bisa merasakan atmosfir sebuah tulisan walaupun itu berbau ilmiah. Hampir 3 tahun lebih aku selalu menulis tulisan untuk hasil tiap rangkaian praktikum di kampus ku, begitu pun dengan tugas akhir ku sekarang. Benar adanya jika hidup memang tak lepas dari sebuah tulisan. I’m believe it

Tulisan memang memberikan semerbak pesona dan keperkasaannya. Pesona tulisan mengajarkanku segala sesuatu yang memang belum sempat aku jamahi. Sesuatu yang memang layak kutau. Dengan tulisan, aku bisa tau keadaan dunia di luar sana tanpa aku menyinggahi satu per satu tempat yang ada di dunia. Namun terkadang hal itu justru membuatku sedikit iri hati. Aku selalu berkeinginan untuk keluar dari sangkar ini. Melihat seperti apakah di belahan dunia sana. Apakah yang terjadi disana, bagaimana itu bisa terjadi, kapan itu akan terjadi kembali dan blaa blaa blaaaaa....

Dan inilah kekuatan dari sebuah tulisan. Tak kusangka, lewat sebuah tulisan aku mampu menembus batas provinsi wilayah yang aku tempati kini. Mungkin ini adalah hal yang biasa bagi seorang penulis profesional dan berpengalaman, namun sangat luar biasa bagiku sebagai penulis amatir. Yogyakarta dan Surabaya menjadi salah satu saksi dari kekuatan sebuah tulisan.
Surabaya Oh Surabaya :)

Mengunjungi sebuah daerah bukan untuk sekedar berlibur tentu merupakan hal yang tak biasa. Seperti ada kans tersendiri ketika kaki ini menginjak sebuah daerah tersebut. Ada sedikit perasan keringat dan usaha yang tak sedikit untuk menggapai kota-kota tersebut. Perjuangan, mungkin itu kata yang tepat untuk mengatasnamakan perjalananku. Butuh perjuangan untuk aku sampai hingga kota itu, dan ketika aku disana aku pun akan melanjutkan perjuanganku hingga titik darah penghabisan. Tulisan menjadi sebuah golden ticket bagiku untuk merambah berbagai kota.
Memories of Yogyakarta

Aku memang pengecut. Tulisan pun menjadi senjata andalan untuk mengatasnamakan sesuatu yang tak bisa kuungkapkan namun tak bisa kubiarkan begitu saja. Sesuatu yang begitu indah dan unik. Sesuatu yang sebenarnya aku nggak tau kenapa hal itu bisa terjadi, bagaimana cara aku menghadapi hal itu dan kapan aku bisa menghentikan hal itu. Kertas dan tinta balpointku seakan resah dan bosan mendengar segala curahan hatiku. Namun untung saja mereka tidak bisa berbicara dan menolak keinginanku. Tulisan menjadi sahabat terbaikku ketika sahabat nyataku tak bisa hadir di sisiku. 


Tulisan menjadi kekuatan tersendiri yang mampu membuat aku lebih kuat dan tegar ketika aku membaca kembali tulisan yang pernah aku goreskan sebelumnya. Dengan tulisan aku bisa berbagi banyak cerita. Tak hanya untukku seorang, namun bagi anak dan cucu ku kelak. Aku dapat mengatakan kepada mereka bahwasannya aku punya catatan cerita manis, pahit ataupun getir. Pernah ku membayangkan ketika kelak aku duduk di kursi goyang membaca tulisan-tulisanku yang telah usang dilahap waktu. Sungguh indah nan syahdu, layaknya lembayung senja di ufuk barat. Dan aku pun semakin bergairah untuk terus dan terus mengukir tulisan di sisa hidupku.

post signature