Kamis, 07 November 2013

Kamis, November 07, 2013 - 2 comments

Merangkak Untuk Berdiri #Part 1

source picture: http://norataiping.blogspot.com

Tiba-tiba kepikiran dengan kata-kata itu yang memunculkan sebuah 1 kalimat yang akhirnya menjadi sebuah tweet di dua media sosialku, twitter dan facebook. Sekilas itu nampak biasa bagi mereka yang membacanya. Tetapi tidak dengan aku. Biarlah. :)



Umumnya setiap manusia pasti pernah merasakan 1x merangkak di umur saat kita sedang lucu-lucunya. Tapi tidak dengan aku. Aku merasakan merangkak sebanyak 2x. Ya, berbeda memang. Tapi aku mensyukuri itu semua. Aku merasakan masa-masa itu ketika aku masih duduk di bangku SD, kalau tidak salah kelas 5 SD. 

Aku masih ingat dengan jelas kejadian pahit itu. Sebuah kecelakaan yang hampir saja merenggut masa depanku. Aku ingat benar kejadian itu. Aku mengalami kecelakaan, dimana kaki ku entah mengapa tiba-tiba terperosok dalam roda motor. Aku masih sadar, dan saat itu aku hanya bilang "aduh" dan segera menarik kaki ku dari roda motor itu. Aku tidak memikirkan apapun tentang kondisi kaki ku yang saat itu aku mengenakan sepatu hitam yang baru dibelikan orang tua ku. Aku dan penjaga sekolahku tetap melaju ke rumahku dengan sedikit rasa nyeri menghampiri kaki kananku. 

Sesampainya di rumah, bapak ku dengan sepeda kesayangannya belum jauh melaju dari rumah. Beliau pun kaget bukan kepalang. Dan kali ini aku benar-benar merasakan nyeri yang teramat perih di kaki kananku. Detik itu aku tidak menghiraukan sama sekali amanat kepala sekolahku yang meminta orang tua ku segera menghadap kepala sekolah saat itu juga. Masih jelas dalam ingatanku betapa paniknya bapak ku melihat kakiku berlumuran darah, dan betapa histerisnya mamah ku yang saat itu berada di rumah. Karena amanat itu begitu penting, mamah ku memenuhi panggilan kepala sekolah dan bapak ku mengantarkan ku ke rumah sakit terdekat.

Sebanyak 5 jahitan tersulam rapih di tumit kaki kananku. Aku pun menjalani perawatan intensif di rumah dengan bantuan perawat rumah sakit yang kebetulan adalah tetanggaku sendiri. Masih terngiang dalam benakku ketika dokter manarik lepas nafasnya, beliau berujar: kalau saja saat itu kamu tidak segera memberhentikan laju motor, mungkin urat yang ada di kakimu sudah putus, dan kemungkinan kamu tidak akan berjalan seperti semula. kamu masih beruntung nak. Aku tidak pernah membayangkan kalau saja saat itu aku terlambat, entahlah akan seperti apa nasib masa depanku.

source picture: http://secretmissnurul.blogspot.com
Selama 2 bulan, kaki kananku tak bisa sempurna menginjak bumi. Aku hanya mengandalkan tenaga bapak dan mamahku untuk menggendongku ketika tiap kali aku ingin ke kamar mandi dan selebihnya aku meminta pertolongan adikku untuk mengambil sesuatu yang aku butuhkan di rumah. Aku tak bisa selamanya berdiam diri seperti ini, pikirku saat itu. Aku ingin cepat seperti dulu lagi, aku bosan hanya duduk dan terbaring sepanjang saat. Ketika aku ingin mencoba belajar berdiri, tetapi rasa nyeri itu menghentakku. Kaki kananku belum berfungsi seperti dulu lagi. Jelas saja semua itu butuh proses, tak secepat itu aku memulihkan kaki kananku. Aku pun harus kembali belajar seperti balita, merangkak. 


Walau terkadang rasa perih itu ada, aku terus dan terus bertekad untuk sembuh. Aku tidak ingin melihat lagi perban di kaki yang tiap pagi selalu diganti baru oleh bapak ku. Aku ingin lepas dari perbanku. Aku pun tak ingin meminum obat-obat itu lagi. Waktu cepat berlalu, aku pun girang ketika aku bisa berdiri walau masih mengandalkan tembok rumahku. Tapi tetap saja aku tidak bisa berjalan, aku hanya bisa mengangkat pelan kaki tiap aku melangkah. Lelah rasanya. Terkadang jika aku ingat masa-masa itu, air mata tidak bisa terelakkan. Perawat yang sekaligus tetangga memang menyarankanku untuk tidak menggunakan kursi roda ataupun tongkat, karena itu bisa membuat malas dan kaki ku akan kaku. 

Cukup banyak waktu yang ku habiskan di rumah. Setelah dirasa cukup pulih, akhirnya aku bisa kembali ke sekolah walau dengan kondisi "tidak biasa". Masih ingat di benakku, ketika ada seorang adik kelasku pernah berseru seperti ini, Haha kakinya pincang! Sambil menunjuk ke arahku. Perih memang. Tapi aku tetap mengandalkan tembok-tembok sekolah untuk membantu berjalan menyelusuri lorong demi lorong sekolah. Bak seorang putri, tiap kali aku lewat di sekerumunan orang mereka memberiku jalan. Rasanya seperti red carpet terhampar di hadapanku. Di sekolah, aku hanya lepas dari bangku ketika aku pulang sekolah dan saat aku ingin ke toilet. Tidak ada jam olahraga untukku. :( Ketika jam istirahat pun, aku hanya bisa duduk dan menikmati bekal yang telah disiapkan oleh mamah ku. Rasanya, pantatku panas duduk berlama-lama di bangku itu, tapi apa daya ku saat itu. 

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ke-5 jahitan di kaki kananku akan segera dilepas. Eh tiba-tiba perawat nya berkata seperti ini, Ran, ini ada daging mati di luka kakimu yang belum diangkat. Kecil koq, nggak sakit. Aaaaaaaa!!! Dan aku pun menjerit sambil menggigit bantal di hadapanku. -_- Dan masa sakit itu pun berakhir setelah aku merasa seperti ada benang yang bergerak lepas dari tumitku. 

Selain harus belajar lebih keras pada banyak mata pelajaranku yang tertinggal, aku pun harus belajar dari merangkak menuju berdiri. Jatuh bangun, itu yang aku rasakan. Sementara aku masih berkutat dengan pemulihanku, teman-teman sebayaku sedang riang gempita mengikuti berbagai perlombaan Hari Kemerdekaan RI. Tahun ini, aku tidak akan mendapatkan hadiah lomba lagi di puncak acara nanti, dalam benakku.

Aku pun menerjang tanpa ada rasa ragu tiap kali rasa sakit itu datang. Tak ku hiraukan rasa sakit itu lagi. Aku hanya ingin sembuh. Aku ingin berjalan dan berlari lagi. Selangkah demi selangkah aku berjalan diatas lantai.  Ku lihat berapa panjang garis lantai yang telah aku lalui, barapa banyak kotak lantai yang kupijak. Usaha keras ku ini tak lepas dari support dan doa yang dipanjatkan oleh orang-orang tersayangku. Dan tidak seburuk perkiraanku. Akhirnya, aku justru mendapatkan hadiah terhebat dan terindah melebihi hadiah lomba pada biasanya.  Aku bisa berjalan!!! Alhamdulillah :)


Pelajaran yang bisa aku ambil dari sekelumit hidupku ini adalah, musibah datang tidak untuk disesali ataupun diratapi namun untuk disyukuri. Mungkin itulah bentuk cara lain Allah SWT menyampaikan rasa cinta dan kasih sayang pada hamba-Nya. 

Tak pernah kusangka sebelumnya, fase "merangkak untuk berdiri" ternyata terulang kembali saat ini. Namun dalam konteks yang berbeda. Bukan pada kakiku, atau organ tubuhku yang lain.  Next Merangkak Untuk Berdiri #Part 2





post signature