Minggu, 15 Desember 2013

Minggu, Desember 15, 2013 - 2 comments

L.D.R Itu Universal


L.D.R.
Long Distance Relationship.


LDR artinya hubungan jarak jauh, hhmm apa mungkin ya si LDR punya hubungan kekerabatan dengan SLJJ? Sambungan Langsung Jarak Jauh, hahaha. :)

Menurut sebagian orang, hubungan yang satu ini adalah hubungan yang boros. Setuju? Setuju atau tidak, tetapi memang realitanya seperti itu. LDR itu boros, lebih tepatnya boros pulsa. Untuk skala modern sih begitu, lain hal lagi kalau jaman dulu yang mungkin lebih boros perangko, amplop dan kertas. 

Kalau dibuat grafik, mungkin grafik yang ada microsoft excel bisa diinterpretasikan jika semakin tinggi rasa rindu yang bergejolak maka semakin tinggi pula kita merogoh kocek lebih dalam. Intinya, kerinduan itu berbanding lurus dengan pemborosan dan berbanding terbalik dengan penghematan. Something like that.

Tapi.. Untuk menghilangkan dahaga rindu, apa sih yang enggak dilakukan. Pulsa terkuras nggak masalah untukku. Apalagi kalo rasa rindunya sudah tak terbendung. Terutama jika rindu itu untuk mereka (red: orang tua). I'm so really miss them... 

Yaa... LDR itu bersifat universal. Tidak hanya berlaku buat orang yang lagi dimabuk gejolak asmara, cinta monyet, kasmaran ataupun apa itu lah namanya.  

Ibarat mahasiswa exchange (preeeet.. gayanya selangit ), aku hanya bisa pulang di liburan panjang. Entah liburan semester ataupun libur hari raya idul fitri. Nggak termasuk idul adha. Itupun hanya hitungan hari untuk menghirup udara cirebon, selebihnya aku menghabiskan di tanah rantau. Sekalinya pulang di bukan tanggal libur adalah ketika aku sakit. Alamak, masa iya harus sakit dulu biar bisa pulang ke Cirebon. 

Beneran deh LDR-an sama orang tua itu menyiksa batin banget. Apalagi waktu iseng nonton film korea yang ternyata mengkisahkan anak yang merantau, "A Long Visit AKA My Mom". Abis deh 1 pack tissue. 

Belum lagi kalau aku lagi ngedengerin deretan lagu-lagu ini di winamp:
1. Mother by Seamo
2. Arigatou by Flow
3. Mirae by Kikoro
4. Number One For Me by Maher Zain
5. Ayah by Seventeen
6. Hanya Satu by Mocca
7. Bunda by Melly Goeslaw
8. Lagu Cinta Untuk Mama by Kenny
9. Yang terbaik Bagimu by Gita Gutawa
10. Terimakasih Ayah by Adiba Khanza
11. Ibu by Farhan
12. Titip Rindu Untuk Ayah by Ebiet G
13. Ibu by Iwan Fals

Speechless. 
Harusnya aku tak perlu gundah gulana ketika aku jauh dari mereka. Karena sebenarnya secara fisik memang mereka jauh dariku, namun secara batin mereka bersemayam dalam naluri ini. Mengikuti kemanapun, kapanpun dan dimanapun aku berada.

Karena dalam raga ini mengalir darah mereka, aku terlahir atas nama cinta dan kasih sayang mereka. Munajat doa mereka juga yang membuatku selalu merasa dekat dengan mereka. Doa yang selalu dipanjatkan tanpa kenal lelah dan waktu, serta doa yang tersirat dalam namaku, Nursyamsu. 

Karena sebenarnya, Nursyamsu adalah gabungan nama mereka. 

Dalam relung hati ini, hanya tersedia 5 ruang yang ditempati 1 wanita, yaitu mamahku. Dan 4 pria yaitu Nabi Muhammad SAW, bapakku, adikku dan calon suamiku kelak.

Mereka adalah alasanku untuk tetap selalu bertahan pada dunia yang fana ini. You're my everything :)

post signature

Kamis, 07 November 2013

Kamis, November 07, 2013 - 2 comments

Merangkak Untuk Berdiri #Part 1

source picture: http://norataiping.blogspot.com

Tiba-tiba kepikiran dengan kata-kata itu yang memunculkan sebuah 1 kalimat yang akhirnya menjadi sebuah tweet di dua media sosialku, twitter dan facebook. Sekilas itu nampak biasa bagi mereka yang membacanya. Tetapi tidak dengan aku. Biarlah. :)



Umumnya setiap manusia pasti pernah merasakan 1x merangkak di umur saat kita sedang lucu-lucunya. Tapi tidak dengan aku. Aku merasakan merangkak sebanyak 2x. Ya, berbeda memang. Tapi aku mensyukuri itu semua. Aku merasakan masa-masa itu ketika aku masih duduk di bangku SD, kalau tidak salah kelas 5 SD. 

Aku masih ingat dengan jelas kejadian pahit itu. Sebuah kecelakaan yang hampir saja merenggut masa depanku. Aku ingat benar kejadian itu. Aku mengalami kecelakaan, dimana kaki ku entah mengapa tiba-tiba terperosok dalam roda motor. Aku masih sadar, dan saat itu aku hanya bilang "aduh" dan segera menarik kaki ku dari roda motor itu. Aku tidak memikirkan apapun tentang kondisi kaki ku yang saat itu aku mengenakan sepatu hitam yang baru dibelikan orang tua ku. Aku dan penjaga sekolahku tetap melaju ke rumahku dengan sedikit rasa nyeri menghampiri kaki kananku. 

Sesampainya di rumah, bapak ku dengan sepeda kesayangannya belum jauh melaju dari rumah. Beliau pun kaget bukan kepalang. Dan kali ini aku benar-benar merasakan nyeri yang teramat perih di kaki kananku. Detik itu aku tidak menghiraukan sama sekali amanat kepala sekolahku yang meminta orang tua ku segera menghadap kepala sekolah saat itu juga. Masih jelas dalam ingatanku betapa paniknya bapak ku melihat kakiku berlumuran darah, dan betapa histerisnya mamah ku yang saat itu berada di rumah. Karena amanat itu begitu penting, mamah ku memenuhi panggilan kepala sekolah dan bapak ku mengantarkan ku ke rumah sakit terdekat.

Sebanyak 5 jahitan tersulam rapih di tumit kaki kananku. Aku pun menjalani perawatan intensif di rumah dengan bantuan perawat rumah sakit yang kebetulan adalah tetanggaku sendiri. Masih terngiang dalam benakku ketika dokter manarik lepas nafasnya, beliau berujar: kalau saja saat itu kamu tidak segera memberhentikan laju motor, mungkin urat yang ada di kakimu sudah putus, dan kemungkinan kamu tidak akan berjalan seperti semula. kamu masih beruntung nak. Aku tidak pernah membayangkan kalau saja saat itu aku terlambat, entahlah akan seperti apa nasib masa depanku.

source picture: http://secretmissnurul.blogspot.com
Selama 2 bulan, kaki kananku tak bisa sempurna menginjak bumi. Aku hanya mengandalkan tenaga bapak dan mamahku untuk menggendongku ketika tiap kali aku ingin ke kamar mandi dan selebihnya aku meminta pertolongan adikku untuk mengambil sesuatu yang aku butuhkan di rumah. Aku tak bisa selamanya berdiam diri seperti ini, pikirku saat itu. Aku ingin cepat seperti dulu lagi, aku bosan hanya duduk dan terbaring sepanjang saat. Ketika aku ingin mencoba belajar berdiri, tetapi rasa nyeri itu menghentakku. Kaki kananku belum berfungsi seperti dulu lagi. Jelas saja semua itu butuh proses, tak secepat itu aku memulihkan kaki kananku. Aku pun harus kembali belajar seperti balita, merangkak. 


Walau terkadang rasa perih itu ada, aku terus dan terus bertekad untuk sembuh. Aku tidak ingin melihat lagi perban di kaki yang tiap pagi selalu diganti baru oleh bapak ku. Aku ingin lepas dari perbanku. Aku pun tak ingin meminum obat-obat itu lagi. Waktu cepat berlalu, aku pun girang ketika aku bisa berdiri walau masih mengandalkan tembok rumahku. Tapi tetap saja aku tidak bisa berjalan, aku hanya bisa mengangkat pelan kaki tiap aku melangkah. Lelah rasanya. Terkadang jika aku ingat masa-masa itu, air mata tidak bisa terelakkan. Perawat yang sekaligus tetangga memang menyarankanku untuk tidak menggunakan kursi roda ataupun tongkat, karena itu bisa membuat malas dan kaki ku akan kaku. 

Cukup banyak waktu yang ku habiskan di rumah. Setelah dirasa cukup pulih, akhirnya aku bisa kembali ke sekolah walau dengan kondisi "tidak biasa". Masih ingat di benakku, ketika ada seorang adik kelasku pernah berseru seperti ini, Haha kakinya pincang! Sambil menunjuk ke arahku. Perih memang. Tapi aku tetap mengandalkan tembok-tembok sekolah untuk membantu berjalan menyelusuri lorong demi lorong sekolah. Bak seorang putri, tiap kali aku lewat di sekerumunan orang mereka memberiku jalan. Rasanya seperti red carpet terhampar di hadapanku. Di sekolah, aku hanya lepas dari bangku ketika aku pulang sekolah dan saat aku ingin ke toilet. Tidak ada jam olahraga untukku. :( Ketika jam istirahat pun, aku hanya bisa duduk dan menikmati bekal yang telah disiapkan oleh mamah ku. Rasanya, pantatku panas duduk berlama-lama di bangku itu, tapi apa daya ku saat itu. 

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ke-5 jahitan di kaki kananku akan segera dilepas. Eh tiba-tiba perawat nya berkata seperti ini, Ran, ini ada daging mati di luka kakimu yang belum diangkat. Kecil koq, nggak sakit. Aaaaaaaa!!! Dan aku pun menjerit sambil menggigit bantal di hadapanku. -_- Dan masa sakit itu pun berakhir setelah aku merasa seperti ada benang yang bergerak lepas dari tumitku. 

Selain harus belajar lebih keras pada banyak mata pelajaranku yang tertinggal, aku pun harus belajar dari merangkak menuju berdiri. Jatuh bangun, itu yang aku rasakan. Sementara aku masih berkutat dengan pemulihanku, teman-teman sebayaku sedang riang gempita mengikuti berbagai perlombaan Hari Kemerdekaan RI. Tahun ini, aku tidak akan mendapatkan hadiah lomba lagi di puncak acara nanti, dalam benakku.

Aku pun menerjang tanpa ada rasa ragu tiap kali rasa sakit itu datang. Tak ku hiraukan rasa sakit itu lagi. Aku hanya ingin sembuh. Aku ingin berjalan dan berlari lagi. Selangkah demi selangkah aku berjalan diatas lantai.  Ku lihat berapa panjang garis lantai yang telah aku lalui, barapa banyak kotak lantai yang kupijak. Usaha keras ku ini tak lepas dari support dan doa yang dipanjatkan oleh orang-orang tersayangku. Dan tidak seburuk perkiraanku. Akhirnya, aku justru mendapatkan hadiah terhebat dan terindah melebihi hadiah lomba pada biasanya.  Aku bisa berjalan!!! Alhamdulillah :)


Pelajaran yang bisa aku ambil dari sekelumit hidupku ini adalah, musibah datang tidak untuk disesali ataupun diratapi namun untuk disyukuri. Mungkin itulah bentuk cara lain Allah SWT menyampaikan rasa cinta dan kasih sayang pada hamba-Nya. 

Tak pernah kusangka sebelumnya, fase "merangkak untuk berdiri" ternyata terulang kembali saat ini. Namun dalam konteks yang berbeda. Bukan pada kakiku, atau organ tubuhku yang lain.  Next Merangkak Untuk Berdiri #Part 2





post signature




Senin, 03 Juni 2013

Senin, Juni 03, 2013 - 9 comments

Overall, husnudzon :)


Masih ingat dalam benakku. Ketika aku merasa Allah SWT tidak membagikan keadilan padaku. Betapa tidak, sejak aku masuk SMA rasanya takdir tidak berbanding lurus dengan segala hasrat dan keinginan.

1st.
Aku menimba ilmu bukan pada tempatnya, mungkin seperti inilah pikiranku saat itu. Aku sama sekali tidak melirik SMA ini, namun Allah SWT mengantarkanku pada SMA ini. SMA ini memang sekolah Negeri, namun aku memiliki pilihan sendiri untuk sekolah putih abu-abuku. Kuingat ketika masa-masa MOS yang kujalani dengan setengah hati. Wajahku selalu kusut di awal-awal sekolah. Terima atau tidak, aku harus merelakan mimpiku melayang begitu saja di belakang pundakku. Aku harus tetap menatap masa depanku. Begitulah tiba-tiba suara hatiku menyeru ketika aku mampu beradaptasi di sekolah. Hingga akhirnya aku mampu menyelesaikan 3 tahun di SMAN 9 Cirebon dengan progress yang sangat baik. Dan akhirnya aku mampu mengukir senyuman indah di wajah orang tuaku. Tak lelah mereka membuka raport SMA ku berulang kali. Di sisi lain, sekolah ini juga memang mewajibkan para siswinya untuk menggunakan jilbab. Mungkin hanya sekolah ku yang menetapkan jilbab diantara sekolah negeri lainnya. Sempat terkejut memang, apalagi aku telah menyiapkan seragam SMA dengan potongan pendek. Walau berawal dari peraturan sekolah, disinilah aku diperkenalkan untuk belajar menutup aurat dengan jilbab. Subhanallah. Mungkin inilah rencana indah Allah SWT yang Ia selipkan untuk Maharani Nursyamsu. :)

2nd.
Masih dalam suasana putih abu-abu. Hanya ada 2 jurusan yang disediakan oleh sekolahku, IPA dan IPS. Sejak SD, aku memang tertarik dengan dunia non eksak. Aku sangat menggebu-gebu dengan mata pelajaran geografi, PKN, sosiologi dan sejarah. Aku selalu merasa sedih tiap kali mata pelajaran tersebut telah usai  jam pelajarannya. Tak mengherankan jika aku mencantumkan jurusan IPS di pilihan 1 dan 2 pada formulir pemilihan jurusan. Namun, nyatanya aku menjadi anak IPA. Itu semua karena hasil Psikotest dan ribuan saran guru-guruku yang menyayangkan aku masuk IPS. Pikirku saat itu, mereka lebih tau kemampuanku dibandingkan dengan diriku sendiri. Sehingga aku menyimpan segala saran mereka. Ternyata mereka benar, aku merasa nyaman di dunia eksak. Bahkan aku merasakan progress yang signifikan. Hingga aku bisa mengikuti beberapa kompetisi eksak tingkat Kota Cirebon mewakilkan sekolahku berturut-turut. Tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku jika aku mampu bersaing dengan mereka yang menurutku lebih berkompeten. Subhanallah. Mungkin inilah rencana indah Allah SWT yang Ia selipkan untuk Maharani Nursyamsu. :)

3rd.
Tak berhenti hingga disitu saja. Ketika aku memilih universitas pun tak jauh berbeda. Aku tak mendapatkan impianku lagi. Rasanya aku mau terjun dari lantai pencakar langit saat itu. Jurusan ilmu gizi IPB, Ilmu Hubungan Internasional dan Ilmu Komunikasi UNIKOM seakan malambaikan tangan di wajahku. Perih memang. Tapi apa boleh buat. Aku memang dilahirkan menjadi cucu Soedirman. Tak penah terfikirkan olehku untuk merasakan masa-masa mudaku di Kota Purwokerto. Masih jelas dalam memoriku, ketika aku tak diizinkan untuk kuliah di tempat yang sangat jauh seperti Bogor dan Bandung. Dan hanya mengizinkan ku untuk berkuliah di Purwokerto. Pindah haluan. Oke, aku menjatuhkan pilihan di Ilmu Gizi. Namun di luar dugaan. Ketika aku ditanyakan langsung oleh guru BK untuk jurusan, aku justru berkata biologi dan bukan ilmu gizi. Kaget memang. Lagi, aku hanya mampu menyimpan segala saran-saran guruku. Dan sempat kudengar bila Ilmu gizi Universitas Jenderal Soedirman ditiadakan untuk angkatanku. Karena mahasiswa yang terdaftar tidak memenuhi kuota yang telah ditentukan. Terlebih lagi ketika disini aku dipertemukan dengan sahabat-sahabat hebat dan terbaikku. Sempat ku menyeka ujung mata ini ketika mereka mampu hadir dalau suka maupun duka. Subhanallah. Mungkin inilah rencana indah Allah SWT yang Ia selipkan untuk Maharani Nursyamsu. :)


Aku kangen masa-masa indah bersama kalian :*
4th. 
Di dalam lingkup bangku kuliah. Asisten praktikum menjadi sasaran empuk para mahasiswa yang haus dengan pengalaman. Walau sebenarnya aku masih merasa kecewa dengan diriku sendiri, namun aku bertekad untuk ikhlas menerima garis takdir. Aku mencoba berusaha untuk beradaptasi dengan akademik yang bukan pilihanku. Dan hasilnya cukup memuaskan. Cukup bisa membuat orang tuaku tersenyum puas menatapku. Ambisi ku bukanlah pepesan kosong. Aku mencoba peruntunganku untuk menjadi asisten praktikum di Laboratorium. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Siang malam aku mengelap keringat untuk pencapaian akademik ternyata tak mampu mengantarkan pada ambisiku. Aku mendapati diriku gagal dalam seleksi di 3 laboratorium yang berbeda. Bahkan ada 1 laboratorium yang menawarkan seleksi tambahan, namun aku tetap saja gagal. 4x gagal ini benar-benar mengajakku dalam lubang depresi tingkat akut. Aku pun mencoba sabar dan tabah. Namun tak disangka, aku justru diminta oleh temenku untuk mendampingi ekskul KIR di SMA IT AL-IRSYAD Purwokerto. Kerja kerasku ku bersama anak SMA pun berbuah hasil. Aku mampu mengantarkan mereka menjadi finalis di salah satu kompetisi. Subhanallah. Mungkin inilah rencana indah Allah SWT yang Ia selipkan untuk Maharani Nursyamsu. :)


Indahnya aku berada diantara kalian semua adik-adikku :)
5th.
Masih di dunia perkuliahan, namun berbeda atmosfir. Rasanya tak lengkap menjadi mahasiswa jika tidak berkecimpung dalam suatu organisasi. Aku menjatuhkan pilihanku pada UPI (Unit Penelitian Ilmiah). UKM ini termasuk UKM yang sudah memiliki 'nama' di kampusku. Selain karena torehan prestasi yang diukir oleh anggota UPI sebelumnya, aku memang tertarik dengan orientasi UKM ini. Dan cerita bermulai ketika adanya proses plotting anggota UPI untuk masing-masing departemen dan unit kerja. Waktu itu aku sangat bersikeras menentukan pilihan pada departemen, tepatnya departemen sosial. Aku mendambakan bisa menjadi bagian dari departemen sosial. Namun, hasil plotting yang terpampang pada mading UPI mencantumkan namaku di  Departemen Keilmuan. Mengelus dada kembali. Dan seiring waktu bergulir, aku menyadari memang inilah jalanku. Berkat Departemen Keilmuan, aku mampu mampu mengukir prestasi di bidang karya tulis yang tak kusangka sebelumnya. Bahkan aku pun diberikan amanat menjadi Kepala Divisi Kajian Ilmiah di Departemen Keilmuan dalam 1 periode. Amanat tersebut membimbingku menjadi  orang yang mampu berinteraksi dengan banyak orang, aku bukan lagi Maharani Nursyamsu yang pendiam dan  juga pemalu. Aku banyak belajar dari pahit dan manisnya berproses dalam organisasi ini. Terimakasih UPI. Subhanallah. Mungkin inilah rencana indah Allah SWT yang Ia selipkan untuk Maharani Nursyamsu. :)


UPI Bravo, UPI Kita Satu


My First Competition :')

6th.
Di penghujung semester kuliahku yaitu semester 7. Semester yang sudah tepat rasanya jika aku melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Aku tak menyangka akhirnya aku bisa merasakan KKN juga. Dahulu aku hanya mendengar cerita-cerita manis dan pahitnya KKN dari kakak pendahuluku. Para pendahulu ku selalu menyarankan untuk memilih Kabupaten Banjarnegara untuk KKN ku. Selain karena tidak terlau jauh dari Purwokerto, setidaknya aku masih bisa berkontribusi untuk kegiatan UKM ku yang berlangsung serentak dengan KKN. Namun, semua itu tak sesuai harapan. Ku dapati pilihan tempat KKN hanya tersisa Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang. Aku memang telat berregistrasi untuk administrasi KKN saat itu. Karena di saat yang bersamaan aku sedang berada di Karimun Jawa selama 6 hari. Dan disana tidak ada ATM yang bisa mendukungku untuk membayar biaya KKN. Dan akhirnya selepas aku tiba di Purwokerto, aku harus menelan ludah jika hanya tersisa 2 Kabupaten. Dan kupilih Pemalang. Saat itu aku hanya mengikuti arah gerak pointer mouse laptopku. Tak ada alasan khusus untuk memilih Kabupaten Pemalang. Dan aku pun ikhlas menerima ini semua, ya sesuai dengan sebutan kabupaten itu. Pemalang Kota Ikhlas. Hahaa.. Dan hikmah dari KKN di Kabupaten Pemalang adalah aku menjadi suka dengan anak kecil. Aku tiba-tiba ingin jadi seorang pengajar atau menjadi sosok yang dekat dengan anak kecil. Padahal dulu aku tidak terlalu menyukai anak kecil. Aku pun mendapatkan sebuah keluarga baru yang tidak lain adalah anggota kelompok KKN ku. Dan juga teman-teman KKN ku dari desa lain yang begitu solid mengibarkan panji-panji Universitas Jenderal Soedirman. Begitu banyak cerita yang kami ukir selama 35 hari yang rasanya tidak cukup untuk aku paparkan semuanya disini. Subhanallah. Mungkin inilah rencana indah Allah SWT yang Ia selipkan untuk Maharani Nursyamsu. :)


Bersama Keluarga Kecamatan Bantarbolang :)



Bersama Keluarga Desa Bantarbolang :)


CONCLUSION
Dua periode wisuda tahun 2013 sudah terlewat di depan mata. Sedih memang. Namun inilah takdirku. Tersisa 2 periode wisuda di akhir tahun. Istiqomah. Itulah yang bisa aku lakukan untuk menasehati diriku sendiri. Aku pun mencoba menjadi perempuan yang kuat dan tegar seperti makna yang tersirat dalam namaku, MAHARANI NURSYAMSU. Kelak aku akan mendapatkan jawaban dari segala garis takdirku ini. Dan aku dapat menulis Subhanallah. Mungkin inilah rencana indah Allah SWT yang Ia selipkan untuk Maharani Nursyamsu. :) di bagian penghujung kalimatnya.

Sekarang, aku hanya perlu bersyukur dengan segala rencana yang telah Allah SWT ukirkan untukku. Karena rencana Allah SWT lebih baik dibandingkan rencana terbaik dan terhebat kita sekalipun. Dan aku percaya bila pasti akan ada hikmah atau mungkin surprise indah yang tak terduga di balik rencana Allah SWT. Overall, husnudzon :)

I LOVE ALLAH SWT.





post signature

Rabu, 08 Mei 2013

Rabu, Mei 08, 2013 - No comments

Ini Nyata: Bukan Sebuah Sci-Fi Film

Sejenak saya termenung melihat deretan tinta kesuksesan yang ditorehkan Bangsa Belanda. Terlebih ketika Negeri Orange ini mampu melahirkan pionir-pionir di segala bentuk aspek kehidupan. Leluhur maupun anak cucu mana yang tidak bangga dengan itu semua. Segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin di mata mereka. Kekurangan di depan mata mereka ‘disulap’ menjadi kelebihan di mata dunia. Dan benar adanya juga quote dari Audrey Hepburn yang kira-kira seperti ini bunyinya, “Nothing is impossible, the word itself says 'I'm possible'!” 

Smart Highway.
Ya, bukan saja gadget yang bisa pintar (red: smartphone) ternyata jalan raya pun bisa. Tidak hanya dunia pendidikan, lalu lintas pun cukup diperhatikan bahkan dimanjakan oleh bangsa itu. Berbekal mental sebagai negara pioner di beberapa aspek kehidupan. Tak begitu mengherankan jika Negara Orange ini meluncurkan sebuah desain inovatif dalam penyematan teknologi jalur lalu lintas. Kesan pertama saya mengetahui informasi ini adalah wow like science fiction film! Namun, dugaanku salah. Ini benar-benar nyata. Dan konsep ini akan diaplikasikan pada pertengahan tahun 2013. It’s amazing! 


Dialah Daan Roosegaarde dan Helleen Herbert yang berhasil memalingkan perhatian dunia di tahun 2012. Kolaborasi dua desainer asal Belanda ini menghadirkan smart highway yang menciptakan jalan raya dengan berbagai kemampuan seperti, glow in the dark road, dynamic paints, interactive lights, induction priority lanes dan wind light. Diyakini jalan raya akan lebih aman, awet, sekaligus baik dari sisi pengendara kendaraan maupun konstruksi jalanan itu sendiri. 


Glow in the dark road. Walaupun kondisi gelap bukan berarti pengemudi jalan tidak mendapat cahaya penerangan. Sekiranya seperti itulah tujuan dari konsep ini. Konsep ini menggunakan cat luminescent yang menyerap energi matahari pada pagi dan siang hari. Selanjutnya bersinar pada malam hari hingga 10 jam guna meingkatkan daya pandang pengemudi. Sehingga dapat mengurangi pengurangan lampu jalan konvensional. 


Dynamic paint. Bukanlah sebuah merk cat berkelas dunia yang dibanjiri konsumen. Melainkan sebuah cat yang dapat memberikan informasi mengenai kondisi jalan. Mekanisme cat ini akan terlihat ketika terjadi fluktuasi suhu sehingga memancarkan informasi secara langsung kepada pengemudi. Seperti memperlihatkan kristal es sebagai peringatan bahwa jalan sedang licin dikarenakan suhu udara yang menurun. 


Interactive lights. Secara interaktif, lampu ini didesain di pinggir jalan tol yang memadukan sensor untuk mendeteksi keberadaan mobil yang mendekat. Lampu akan bersinar semakin terang jika kendaraan melintas, begitupun sebaliknya. Untuk alasan berhemat, lampu ini tidak menyala jika jalan sedang kosong. 

Induction priority lanes. Konsep ini lebih terfokus untuk kendaraan listrik. Karena fitur ini menyediakan fasilitas charger untuk kendaraan listrik dengan adanya induksi. Induksi kumparan yang tertanam di bawah aspal jalan tol 


Wind light. Fitur pintar ini berbetuk kincir angin kertas yang menyala saat kendaraan lewat. Tak hanya itu, angin alami pun turut menggerakan fitur ini yang dinilai sebagai fitur bernilai estetika.

Sepertinya sekarang Belanda tidak akan hanya tersohor sebagai raja kincir angin. Bisa saja mereka akan merengkuh sebutan baru sebagai raja jalan raya. Betapa tidak. Mereka telah banyak menciptakan sesuatu yang belum terpikirkan oleh orang lain sebelumnya. Suatu saat bangsa ini akan menjadi poros atau pusat perkembangan teknologi selanjutnya. Melahirkan dan mencetak prestasi lainnya. Dan itulah yang dinamakan pionir. 



Referensi :
http://www.talkmen.com/videos/watch/236/inovasi-jalan-tol-glow-in-the-dark-di-belanda/

http://www.jagatreview.com/2012/10/permukaan-jalan-raya-belanda-akan-glow-in-the-dark/

http://gadget.gopego.com/2012/10/konsep-jalan-raya-pintar-diterapkan-di-belanda-tahun-2013

http://mobil.otomotifnet.com/read/2012/11/12/336178/15/5/Ini-Dia-Jalan-Tol-Pintar-Untuk-Solusi-Aman-Berkendara



Rabu, Mei 08, 2013 - No comments

Belanda, Si Kunci Pembuka Gerbang Studi di Eropa

"Pendidikan adalah senjata paling mematikan, karena dengan itu Anda dapat mengubah dunia" – Yaa... begitulah Nelson Mandela bertuah. Ibarat sebuah kereta api, pendidikan adalah lokomotif yang menarik rangkaian gerbong di belakangnya. Sebuah lokomotif yang mampu menggerakkan SDM dalam pembangunan bangsa. Kereta api mampu beroperasi sebagaimana mestinya jika lokomotif mampu berfungsi dengan baik, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, kemajuan suatu bangsa perlu didukung dengan pendidikan SDM yang berkualitas. Karena pada hakikatnya kualitas SDM berbanding lurus dengan pendobrakaan kemajuan bangsa. Kualitas pendidikan SDM dapat terpenuhi dari berbagai sumber, dari dalam negeri ataupun luar negeri. Namun bukan hembusan belaka jika pendidikan di luar negeri jauh lebih maju dan berkualitas. Tak ayal putra-putri bangsa Indonesia berantusias melintasi batas territorial negara ini untuk ‘membasahi dahaga’ ilmu mereka. Institusi pendidikan di berbagai belahan dunia pun semakin gencar menawarkan jasa pelayanan pendidikan yang cukup menggiurkan.



Hidup memang pilihan. Semua orang memiliki argumentasi beragam untuk mengambil suatu pilihan. Begitupun yang dialami oleh kalangan intelektual khususnya calon mahasiswa. Mereka harus lebih cermat mengambil keputusan untuk menyelami atmosfer pendidikan di negara orang. Hal itu dikarenakan untuk mengantisipasi penyesalan ataupun kerugian yang akan diterima mereka kelak. Mengingat, studi di luar negeri merupakan investasi waktu dan biaya serta pilihan sekali seumur hidup. 


Dialah Eropa. Bukan hal baru lagi jika benua ini menjadi target favorit mereka. Pilihan studi di Eropa seolah merupakan dua sisi koin yang berlainan. Di satu sisi, Eropa menjadi tujuan studi yang ‘laris-manis’ di berbagai kalangan intelektual. Terdapat sekitar 3000 pelajar dari Indonesia yang memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Eropa tiap tahunnya. Termasuk salah satunya tokoh proklamator Negara Indonesia yaitu Mohammad Hatta yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Belanda. Bahkan Universitas di Eropa tidak sedikit menempatkan diri dalam 100 universitas terbaik di dunia.

Di sisi lain benua biru ini terkadang menjadi hal yang menakutkan bagi sejumlah kalangan yang ingin melanjutkan studi. Perlu diakui jika bahasa merupakan sebuah jembatan penghubung dalam sebuah komunikasi diantara khalayak orang. Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa bahasa menjadi salah satu faktor penghalang bagi kalangan yang ‘haus’ pengalaman di luar negeri. Mungkin sempat terbesit diantara beberapa kalangan jika studi di Eropa lebih sulit. Terlebih Bahasa Inggris bukanlah bahasa utama di Eropa. Namun, hal tersebut tidak serta merta benar adanya. Banyak perguruan tinggi di Eropa menawarkan program studi yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. 

Dan inilah bentuk perhatian Belanda bagi dunia pendidikan. Belanda menjadi sebuah pionir sebagai negara non berbahasa Inggris pertama yang menawarkan program studi berbahasa Inggris bagi pendidikan tinggi. Pendidikan di Belanda menawarkan lebih dari 1560 program studi dan mata kuliah internasional. Bahkan sebanyak 1543 program studi disampaikan dalam Bahasa Inggris. Hal ini pula yang menjadikan Negara Ratu Beatrix menjadi negara terunggul di Benua Eropa. Didukung pula dengan 95% penduduk Belanda mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Hal ini seolah menjadi angin segar bagi calon mahasiswa Indonesia dengan tujuan studi Eropa. Sebuah angin segar dari Belanda yang telah mempelopori dalam membukakan pintu gerbang Eropa menjadi lebih mudah. 


Referensi:
http://www.eur.nl/indonesian/student_life/study_holland/

http://studieropa.com/tahukah-kamu-tentang-pendidikan-di-eropa/

http://studieropa.com/6-fakta-menarik-mengenai-negara-bunga-tulip/

http://edukasi.kompas.com/read/2011/11/23/08335863/Cermat.
Sebelum.Studi.ke.Luar.Negeri


post signature

Jumat, 05 April 2013

Jumat, April 05, 2013 - 4 comments

D.P.O. untuk Bangsaku


Jepang juga negara, sama halnya dengan negara lainnya di dunia. Sekuat apapun pertahanan dan idealisme yang mereka agungkan, Jepang tetaplah sebuah negara. Kedigdayaan Jepang pernah diuji pada tahun 1945. Sang penguasa wilayah Asia ini menelan sebuah kekalahan dari rival perang dunia ke-II nya, Amerika Serikat. Jepang pun tak bisa berkelit dari porak poranda. Tak sedikit petinggi negara sibuk menutup rasa malu kekalahan mereka dengan bunuh diri. Lain halnya dengan Kaisar Jepang saat itu, kaisar Hirohito. Yang terpikir oleh negarawan ini hanyalah satu, Berapakah guru yang masih kita miliki? 

Guru, dosen, staff pendidik, staff pengajar atau apalah itu namanya. Tak sedikit khalayak masyarakat menjadikan itu sebagai profesi, pekerjaan bahkan cita-cita. Sejatinya, itu tergantung dari sudut pandang setiap orang untuk memberikan penilaian. Lalu, bagaimana dengan literatur dan internet. Apakah mereka juga bisa disebut guru? Atau hanya sekedar informan? Keduanya memang membukakan mata kita terhadap dunia. Mengubah mind set kita terhadap sesuatu yang tidak tau menjadi lebih tau. 

Source Picture: http://www.networkedblogs.com
Tolak ukur dari sukses dan gagalnya sebuah negara itu berada dalam genggaman generasi muda. Seorang pendidik mempunyai tempat khusus dalam misi penting ini. Memiliki sebuah peran yang tidak bisa dikatakan mudah untuk membimbing generasi muda. Bukan berarti generasi muda adalah makhluk yang tidak mandiri. Namun, generasi muda sangat membutuhkan seseorang yang mampu mengayomi tidak hanya dengan teori dan pengetahuan. Apalah arti sebuah bintang kelas dengan karakter dan moral yang meredup.

Dan apa bedanya mereka (read: literatur dan internet) dengan seorang pendidik yang hanya 'menyuapi' muridnya dengan segudang pengetahuan dan teori?? Tanpa disadari mungkin kehadiran pendidik akan di nomer dua kan oleh murid. Karena mereka akan merasa mampu menjelma menjadi seseorang yang autodidak. Tentu ini tidak bisa dibiarkan menjadi sebuah kebiasaan. Hakikatnya, seorang pendidik adalah sosok yang mampu memberikan suri tauladan yang baik pada muridnya. Oleh karena itu, sudah semestinya seorang pendidik memiliki kans tersendiri di mata muridnya. Mampu dibedakan dengan informan lain. Karena aku yakin, seorang pendidik sangat jauh lebih baik daripada sumber informasi ataupun informan.

Memang, ijazah dan title merupakan follow up dari dunia pendidikan. Namun, mencetak anak bangsa yang berkarakter dan bermoral adalah follow up yang dibutuhkan bangsa ini. Karakter seseorang memang tak bisa ditentukan atau dipaksakan oleh siapapun. Namun, setidaknya sang pendidik mampu mendampingi dan meluruskan anak didiknya menuju arah yang diharapkan bangsa ini. Memiliki karakter yang mampu membawa diri dengan segala 'bekal' yang mereka rengkuh ketika mereka mengeyam bangku pendidikan.

Sedikit flash back 68 tahun yang lalu, ketika Kaisar Hirohito hanya memikirkan seorang guru untuk bangsanya. Tentu bukan sosok guru yang hanya mampu 'menyuapi' teori dan pengetahun yang dicari saat itu. Tetapi, sosok guru yang mampu membimbing karakter dan moral anak bangsa. Terlebih moral mereka berada dalam keterpurukan yang teramat dahsyat. Menurutku, kondisi bangsa ini dengan bangsa Jepang tempo dulu tidaklah begitu berbeda. Secara fisik berlainan, namun secara non fisik kita serupa. Kita sedang berada dalam zona krisis moral dan karakter. Dalam hal ini bukan maksud aku paling benar, apalagi paling sempurna. Sekali lagi, bukan.

Bangsa ini butuh anak bangsa yang tak hanya pandai menghafal, menghitung, pemburu title, penikmat nilai sempurna dan IPK cumlaude. Aku pernah terhenyak mendengar dialog dari salah satu film layar lebar yang kurang lebihnya seperti ini, "Di luar sana banyak sarjana nganggur, malah ada master nyaris jadi gelandangan karena nggak bisa bayar kontrakan". Tak hanya itu. Di luar sana, ada pula anak bangsa yang menyalahgunakan ilmu mereka untuk hal yang tak pantas dilakukan. Antara ilmu, moral dan karakter seakan berjalan masing-masing, saling bertolak belakang.

Sontak, batinku teriris perih mengetahui ini semua. Inikah yang dibutuhkan bangsa ini. Tentu bukan. Ketika pendidikan seakan hanya mencetak 'robot-robot ber-title'. Dalam hal ini, aku bukan bermaksud menyudutkan ataupun memvonis siapapun. Aku hanya meluapkan apa yang aku rasa dan aku pikirkan.

Dan hal ini pulalah yang melatarbelakangiku untuk tak mudah mengucapkan, Setelah aku lulus, aku ingin menjadi guru ataupun dosen. Karena aku pun merasa belum memiliki kans yang mampu membimbing anak bangsa. Aku tak ingin itu hanya dijadikan sebagai profesi. Di sudut profesi itu terdapat amanat yang begitu besar. Tak mudah bagiku untuk manjatuhkan pilihanku menjadi sosok itu. Mungkin diluar sana, akan ada seseorang yang jauh lebih pantas dan mampu menjadi sosok itu. Amin.


post signature

Rabu, 20 Maret 2013

Rabu, Maret 20, 2013 - No comments

Dan Ini 'mondok' Cara Gue

Kurang lebih 9 tahun yang lalu. Sudah terlalu usang memang. Berdebu pula Hahaha.. Kira-kira saat itu aku masih bau kencur. Anak baru gede. Anak jebolan Sekolah Dasar. Yaa begitulah orang-orang mengatakannya. Saat itu, aku direkomendasikan oleh ayahku untuk 'mondok'. Di waktu yang sudah lama, ayahku hidup dan bergaul dengan para santri. Rumah kedua orang tua ayahku dikelilingi dengan pondok pesantren. Desa Ciwaringin di salah satu Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Desa ini terkenal dengan bangunan pesantren yang seakan 'menjamur' untuk menciptakan lulusan santri berakhlaqul karimah. Beliau memang tidak 'mondok' dan beliau pun sadar ilmu agama Islam yang dimilikinya tidak terlalu tinggi. Tak pelak beliau menginginkan salah satu anaknya menjadi santri. Memiliki 'bekal' ilmu agama yang lebih tinggi untuk menyongsong masa depan yang menurutnya cukup 'mengerikan'.  

Bukan aku tidak ingin menjadi anak yang memiliki ilmu agama lebih tinggi. Namun, pandanganku saat itu 'mondok' bukanlah hal yang aku suka. Melirik pun serasa tidak ingin. Bahkan terlintas dipikiranku pun, tidak. Ketika bersilaturahmi ke rumah nenek, jejeran bangunan  pondok seakan bangunan biasa bagiku. Tak ada chemistry atau daya tarik magnet yang mengalir. Mungkin karena saat itu aku masih kecil, aku berpendapat bahwa 'mondok' adalah hal yang nggak asik. Harus jauh dari orang tua. Tak ada kebebasan waktu. Semuanya diatur dan terikat. Dan akhirnya aku pun berusaha untuk masuk Sekolah Menengah Pertama favorit di Kota Cirebon. Allah SWT pun melancarkan rencanaku. Alih-alih telah diterima di 'sekolah favorit', aku menolak untuk masuk pondok pesantren. Menurutku sekolahku lebih bergengsi. Lantas, untuk apa aku 'mondok' toh di sekolah pun menyodorkan pelajaran agama islam. Astagfirulloh.. Bukan karena ayahku takut dengan anaknya, namun beliau hanya tak ingin memaksa kehendak pada anak perempuan satu-satunya. Hingga SMA pun aku bersekolah dengan notabene-nya hanya menerapkan ilmu agama yang standar. Sebagimana mestinya sekolah umum, bukan sekolah swasta yang berbasis agama islam.   

Dan kini setelah aku berumur 21 tahun. Dahaga akan ilmu Allah SWT semakin menggerogotiku. Tak mungkin aku harus mengabdikan diri pada pondok pesantren dengan umurku yang sudah menginjak kepala dua. Terlebih aku sedang menekuni ilmu sainsku di salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah. Dehidrasi ini datang ketika aku berada di detik-detik aku akan mengabdikan ilmuku di masyarakat. Dan titik cahaya pun datang dengan syahdunya. Tak jauh-jauh dari hobby-ku. Aku mendapatkan setetes embun yang mampu membasahi dahagaku. Awalnya aku memang tidak tertarik dengan karya-karya fenomenal kang abik. Yup, siapa sih yang tidak mengenal beliau. Salah satu novelis nomer wahid di negeri ini, Habiburahman El Shirazy *standing applause*. Dahulu, karya-karya beliau baik dalam bentuk film ataupun novel, tak pernah aku meliriknya. Aku lebih tertarik dengan hal-hal berbau negerinya boyband dan girlband. Korea Selatan Hahahah. Rasanya aku mendopping diriku sendiri dengan sejuta cerita dari negeri itu.

Namun, berawal dari aktivitasku berselancar di dunia maya. Aku iseng menonton salah satu film karya kang abik, sebutan akrab beliau. Tak hanya air mata yang mampu mewakilkanku untuk berkomentar. Hatiku dan mulutku mampu sinkron untuk mengatakan, Subhanalloh. Heiiii raniiiii, kemana saja kamu selama ini, helloooo, begitulah benakku berteriak. Mungkin, selama ini aku bersembunyi di balik tempurung, hingga aku tak sadar keberadaan karya-karya seperti itu. Memang terdapat unsur drama di dalam karya beliau. Namun drama itu terbungkus rapi dalam balutan nuansa islami. Diperindah dengan pesan-pesan moral yang sarat akan makna kehidupan, namun tidak menggurui. Dan Itulah yang aku suka. Terlebih dicetak dalam bentuk novel dan film. Dua icon yang mungkin tak bisa lepas dari sosok aku, hehehe. Sambil menyelam minum air, seperti itu kiasan yang pantas untukku sekarang.

Di satu sisi aku menikmati sebuah seni dan indahnya sebuah sastra. Di sisi lain aku mendapatkan beberapa ilmu agamaku, islam. Yaa.. hingga saat ini aku baru menghatamkan 1 novel beliau, Cinta Suci Zahrana. Dan melahap film-film garapan beliau seperti Ayat-ayat Cinta, Dalam Mihrab Cinta, Ketika Cinta Bertasbih part 1 dan 2. Alhamdulilah..... Walau tak segunung, namun setidaknya aku mendapatkan yang selama ini aku dambakan. Rasanya tak sabar aku menunggu kaya-karya beliau lainnya.  Insyaallah aku akan 'mondok' pada karya-karya beliau, atau mungkin karya-karya cendekiawan lainnya. 

Source: www.lokerseni.web.id

post signature

Kamis, 07 Maret 2013

Kamis, Maret 07, 2013 - 4 comments

Other Sides of the Scientist (part 1)


Sudah cukup lama ini aku mengakui bahwa aku telah jatuh cinta. Yup, I'm fallin in love. Aku sebenarnya jatuh cinta dengan salah satu band asal Negeri Elisabeth, COLDPLAY. Alunan rock alternatif mereka mampu membius dan memalingkanku dari band kece lainnya. Dan salah satu lagu yang menjadi top list di winamp ku adalah THE SCIENTIST. Menurutku, judul yang mereka tawarkan cukup unik. Terlebih alunan piano yang dimainkan Chris Martin cukup memukau dan mampu membuatku bertahan lama memasang headset. Kuakui lagu ini memang lagu yang banyak diminati khalayak muda seperti aku, hahaha. Kendati lagu ini pun masih mengusung tema klasik yang tak jauh dari persoalan cinta. Yaa.. memang cinta selalu menyimpan sejuta hal yang selalu ada saja yang bisa diceritakan. It's power of love *asiiikk*


Tapi, bukan itu saja yang aku sorot selama ini. Terkadang setiap aku mendengar lagu ini, aku teringat dengan background diriku sendiri. Scientist. Yaaa, ketika aku lulus nanti akan ada embel-embel S.Si tepat dibelakang namaku. S.Si tidak lain adalah Sarjana Science, sebuah title S1 dari kampus dimana aku menimba ilmu. Aku memang berasal dari jurusan ilmu sains, tepatnya biologi murni. Tidak dapat dipungkiri pula bila follow up dari kampusku adalah menjadi seorang scientist atau ilmuan.  Sebenarnya profesi seperti  ini bukanlah impianku. Benar-benar tak pernah dibayangkan oleh aku sebelumnya, bahkan ketika menulis cita-cita sewaktu aku SD. Namun, apalah dayaku. Nasi sudah menjadi bubur. Toh aku sudah bertahan di kampus ini hampir 4 tahun. Dan aku pun tak bisa mengelak apalagi menghindari hal yang berbau scientist. Lihat saja ketika aku masih semester 5. Aku dengan beraninya mencoba PKL (Praktek Kerja Lapangan) di salah satu lembaga riset milik pemerintah di Jakarta. Bermodalkan niat, ilmu seadanya dan segudang nekat, maka jadilah aku seorang scientist muda *agak berlebihan sepertinya*.


















Aku memang si bolang, si bocah petualang. Berbicara realita, sebenarnya nggak sepenuhnya aku berjiwa mandiri. Aku masih termasuk dalam kategori anak yang manja. Namun ku akui ada hasrat ingin menjadi pribadi yang lebih mandiri. Maka dari itu aku berani memutuskan untuk PKL di Jakarta. Padahal disana tak ada satupun keluargaku disana. Untung saja aku bersama sahabatku. Jadi aku tidak merasa kesepian ataupun ketakutan selama 1 bulan lebih disana, terhitung sejak akhir Januari hingga akhir Februari. Dan itu menjadi pengalaman terhebat versi diriku sendiri. Hal itu tidak lain karena aku mencapai targetku untuk mengkoleksi pengalaman beserta menjelajahi tiap jengkal daratan di muka bumi ini. Finally, I got you Jakarta!!

Begitu banyak cerita dari ranah betawi yang aku pun terkadang ingin tertawa sendiri mengingatnya. Hahaha. Mikrobiologi Lingkungan, merupakan bidang kajian PKL ku saat itu. Menurutku itu terlalu hebat dan menakutkan bagi aku yang bisa dikatakan masih anak bawang. Namun, itulah aku. Bukan Maharani Nursyamsu jika aku tidak berani menerima tantangan. Dibalik tembok gedung LIPI Oceanografi Ancol Jakarta, begitu banyak cerita suka dan duka yang terukir. Diantara ketiga sahabatku, hanya diriku yang bekerja paling lama hampir 1 bulan lebih. Air mata pun tak terelakkan. Rasa putus asa pun sempat menghampiriku saat itu. Namun Allah SWT memang sutradara terbaik di jagad raya ini. Atas izin Allah SWT. akhirnya aku bisa menyelesaikan PKL beserta laporan hasil PKL ku, yang berjudul Analisis Kemampuan Bakteri Hidrokarbonoklastik Menghasilkan Biosurfaktan Untuk Agen Bioremediasi.

Inilah cerita pertama diriku yang berperan sebagai scientist *gaya nya setinggi langit*. Next, cerita apa lagi yang akan berkumpul bersama pengalaman-pengalaman ku sebelumnya? Kota mana lagikah yang akan aku jelajahi??? Hhmmm rasanya aku tak sabar menanti rencana indah dari Allah SWT.


post signature


Selasa, 05 Maret 2013

Selasa, Maret 05, 2013 - No comments

Dari Tulisan, Oleh Tulisan, Untuk Tulisan

source image: http://thedictionaryprojectblog.com
Dengan kata-kata aku bisa mengubah dunia. Begitulah sebuah petikan yang bersarang dalam pikiranku. Hakikatnya itu merupakan kalimat yang diagung-agungkan oleh seorang jurnalis. Sebuah profesi yang memang bekerja dan berkecimpung tak jauh dari sebuah tulisan. Sebuah profesi yang menjadi salah satu bagian dari list impian profesiku di masa depan. Selain menjadi duta besar untuk salah satu negara ataupun seorang ahli gizi. Yaa... walau kini aku tak mengambil jurusan ilmu komunikasi dalam jenjang S1 ku. Apalagi jurusan hubungan internasional dan ilmu gizi yang seakan jauh dari pelupuk mata. Memang garis takdir telah menentukan jalan hidupku yang lain. Aku terdampar dalam jurusan biologi murni. Hampir tidak ada kaitannya dengan minatku.

Aku memang tertarik atau mungkin aku telah jatuh cinta dengan MENULIS. Kata-kata yang melahirkan sebuah kalimat dan berujung pada sebuah tulisan telah menjadi sahabat hidupku. Walau aku berada dalam lingkup biologi, aku masih bisa merasakan atmosfir sebuah tulisan walaupun itu berbau ilmiah. Hampir 3 tahun lebih aku selalu menulis tulisan untuk hasil tiap rangkaian praktikum di kampus ku, begitu pun dengan tugas akhir ku sekarang. Benar adanya jika hidup memang tak lepas dari sebuah tulisan. I’m believe it

Tulisan memang memberikan semerbak pesona dan keperkasaannya. Pesona tulisan mengajarkanku segala sesuatu yang memang belum sempat aku jamahi. Sesuatu yang memang layak kutau. Dengan tulisan, aku bisa tau keadaan dunia di luar sana tanpa aku menyinggahi satu per satu tempat yang ada di dunia. Namun terkadang hal itu justru membuatku sedikit iri hati. Aku selalu berkeinginan untuk keluar dari sangkar ini. Melihat seperti apakah di belahan dunia sana. Apakah yang terjadi disana, bagaimana itu bisa terjadi, kapan itu akan terjadi kembali dan blaa blaa blaaaaa....

Dan inilah kekuatan dari sebuah tulisan. Tak kusangka, lewat sebuah tulisan aku mampu menembus batas provinsi wilayah yang aku tempati kini. Mungkin ini adalah hal yang biasa bagi seorang penulis profesional dan berpengalaman, namun sangat luar biasa bagiku sebagai penulis amatir. Yogyakarta dan Surabaya menjadi salah satu saksi dari kekuatan sebuah tulisan.
Surabaya Oh Surabaya :)

Mengunjungi sebuah daerah bukan untuk sekedar berlibur tentu merupakan hal yang tak biasa. Seperti ada kans tersendiri ketika kaki ini menginjak sebuah daerah tersebut. Ada sedikit perasan keringat dan usaha yang tak sedikit untuk menggapai kota-kota tersebut. Perjuangan, mungkin itu kata yang tepat untuk mengatasnamakan perjalananku. Butuh perjuangan untuk aku sampai hingga kota itu, dan ketika aku disana aku pun akan melanjutkan perjuanganku hingga titik darah penghabisan. Tulisan menjadi sebuah golden ticket bagiku untuk merambah berbagai kota.
Memories of Yogyakarta

Aku memang pengecut. Tulisan pun menjadi senjata andalan untuk mengatasnamakan sesuatu yang tak bisa kuungkapkan namun tak bisa kubiarkan begitu saja. Sesuatu yang begitu indah dan unik. Sesuatu yang sebenarnya aku nggak tau kenapa hal itu bisa terjadi, bagaimana cara aku menghadapi hal itu dan kapan aku bisa menghentikan hal itu. Kertas dan tinta balpointku seakan resah dan bosan mendengar segala curahan hatiku. Namun untung saja mereka tidak bisa berbicara dan menolak keinginanku. Tulisan menjadi sahabat terbaikku ketika sahabat nyataku tak bisa hadir di sisiku. 


Tulisan menjadi kekuatan tersendiri yang mampu membuat aku lebih kuat dan tegar ketika aku membaca kembali tulisan yang pernah aku goreskan sebelumnya. Dengan tulisan aku bisa berbagi banyak cerita. Tak hanya untukku seorang, namun bagi anak dan cucu ku kelak. Aku dapat mengatakan kepada mereka bahwasannya aku punya catatan cerita manis, pahit ataupun getir. Pernah ku membayangkan ketika kelak aku duduk di kursi goyang membaca tulisan-tulisanku yang telah usang dilahap waktu. Sungguh indah nan syahdu, layaknya lembayung senja di ufuk barat. Dan aku pun semakin bergairah untuk terus dan terus mengukir tulisan di sisa hidupku.

post signature




Selasa, 22 Januari 2013

Selasa, Januari 22, 2013 - 6 comments

Simple, Just a Smile



BAHAGIA ITU SEDERHANA.
SEDERHANA ITU BAHAGIA.

Secara tersirat kedua kalimat tersebut serupa namun tak sama. Hanya penempatan kata-katanya saja yang berbeda. Selebihnya tergantung dari orang-orang yang mengartikan kalimat tersebut. Tiap orang punya sudut berbeda dalam memandang sesuatu. Entah kenapa, menurutku kalimat-kalimat tersebut nggak punya sisi perbedaan.

Sederhana. Ya sederhana. Aku suka itu...

Banyak hal di dunia ini yang terbungkus rapi dalam balutan sederhana. Salah satunya adalah senyuman. Why? Aku yakin di dunia ini nggak ada yang menolak dengan pernyataanku tadi. Senyuman adalah salah satu hal paling sederhana di dunia ini.

Hal yang pertama dilakukan orang-orang yang tak dikenal adalah memberi senyuman. Ya walau sedikit agak meringis dan tak ikhlas, hahaha. Bahkan untuk orang yang sudah saling mengenal pun senyuman bagaikan appetizer atau santapan awal pertemuan sebelum memulai perbincangan.

Korban Secret admire pasti nggak mau ketinggalan dalam hal ini. Ya pengagum rahasia. Ada dua tipe pengagum rahasia yang aku tau. Pertama, pengagum rahasia yang benar-benar mengandalkan takdir Tuhan untuk bisa mendapatkan si doi. Kedua, pengagum rahasia yang mengandalkan sayap kanan dan sayap kiri, maksudnya teman si doi.

Source: www.deviantart.com
Senyuman lebih berasa atau punya feel banget untuk secret admire yang tipe pertama. Karena biasanya dia salah satu makhluk polos atau pemalu, lebih ke sifat cewek sih. Aku yakin, secret admire yang satu ini kalau dikasih senyuman rasanya mau terbang ke langit ke 7. Jelas lah, toh biasanya tipe yang ini nggak pernah ada kemajuan. Dia cuma berdiri tegak di garis start dan menunggu sebuah keajaiban bisa mendapatkan dia. So, sekalinya dikasih senyuman dari dia. Aduh... ampun deh sepertinya aku nggak bisa cerita bagaimana rasanya itu. Mungkin untuk 1 postingan ini pun kurang, 1 novel kali ya baru selesai haha.  Dan aku bisa kasih kesimpulan sebuah senyuman untuk para secret admire, THE MIRACLE OF SMILE. 

Ada yang lebih lucu lagi. Terkadang senyuman itu jadi jawaban paling TOP dibandingkan dengan berkata-kata panjang layaknya pujangga. Cukup tersenyum seolah orang pun tau apa yang ingin dikatakan oleh orang tersebut. Contohnya pada masa-masa putih biru, jaman flinstones aku menyebutnya. Maklum, masa ini sudah terlalu usang bagiku. Masa-masa cinta monyet jadi hits di anak-anak SMP. Ketika sang romeo menghempaskan panah si cupid kepada sang juliet. Dan kamu tau apa yang dilakukan si cewek ketika si cowok udah berkoar-koar mengeluarkan segala isi hatinya. Cewek hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan si cowok. Jadi bisa diartikan seperti ini, senyuman = YA. Dan anehnya si cowok dengan girangnya bukan main. Rasanya senyuman bisa mengalahkan apapun di dunia. Mungkin senyuman rembulan atau matahari yang biasa digambar anak TK pun kalah. Dan mungkin senyuman tipe itu bisa dikatakan THE POWER OF SMILE.

Sebagai seorang biologist (asik gaya bgt deh...) aku sangat mengagumi sebuah senyuman. Kenapa? Karena ada hal yang menakjubkan di balik sebuah senyuman. Dulu, nggak tau deh kapan. Pokoknya waktu itu dosen ku pernah bilang seperti ini:

"Untuk sebuah senyuman dibutuhkan 17 otot sedangkan 43 otot untuk sebuah kecemberutan"


Nah loh, mending yang mana. Senyum atau cemberut? Cemberut justru banyak menguras energi, nggak tanggung-tanggung dia menarik otot hampir 3x lipat dari otot yang ditarik sebuah senyuman. Jadi salah deh kalau ada quotes seperti ini: senyum membawa luka.  Harusnya yang benar seperti ini, cemberut membawa luka Hahaha...

Nggak heran banyak teori klasik berkeliaran bahwa orang yang hidupnya cemberut pasti cepet tua.

Atau ada teori lain menggelitik seperti ini, senyum dong kalau cemberut aja nanti ganteng kamu hilang loh. 

Overall, be smile...


post signature