Senin, 31 Maret 2014

Senin, Maret 31, 2014 - , 4 comments

I’m not the followers but We’re the leaders

Pemimpin. Mendengar kata yang satu ini pasti yang terbesit adalah, sosok pegawai publik, kekuasaan, kewenangan dan dunia politik. Impuls-impuls di otak tak segan mengiring kita menuju arti seorang pemimpin dalam skala luas. Seperti pejabat desa, pejabat daerah hingga pejabat pemerintahan.

Orang bijak pernah berkata, untuk apa kita melihat yang diseberang samudera jika ada yang lebih mudah dilihat di hulu sungai. Jadi sebelum kita merangkak untuk hal yang lebih besar cobalah untuk merangkul yang lebih kecil. 

Sekarang, tataplah diri kita di depan cermin, kenali dirimu dan siapakah dirimu sebenarnya. Wahai kawan, perlu kita ketahui bahwa kita adalah pemimpin. Masih tidak percaya? Baiklah, sederhana sebenarnya untuk meyakinkan bahwa kita adalah pemimpin. Hakikatnya kita memimpin pada tiap jam, menit hingga detik bergulir. Bahkan ketika pagi yang tersirat dengan sinar emasnya hingga sang jingga menampakkan keelokkan di langit senja, kita tetap memimpin. Ya, kita adalah pemimpin. Memimpin diri sendiri atas prajurit-prajurit yang dinamakan nikmat. Dialah nikmat sehat, panjang umur, materi, profesi, dan berbagai ujian yang membelenggu. Ingat tak selamanya nikmat berwujud bahagia ataupun kesenangan. 

Namun, terkadang kita sebagai manusia terjepit dalam sebuah perempatan yang mengarahkan kita menjadi pemimpin yang tidak seutuhnya. Apalagi ketika kita berada dalam kondisi under preassure dan riuh dihantui sebuah deadline. Alih-alih ingin menyelesaikan sebuah kewajiban secara sempurna , justru waktu, tenaga dan pikiran menjadi sasaran empuk untuk dijadikan kambing hitam. Bahkan disaat-saat getir tersebut terkadang masih saja terbesit pikiran nakal yang mengatasnamakan perandaian, “Andai 1 jam itu lebih dari 24 jam, andai 1 minggu lebih dari 7 hari, dan 1 bulan lebih dari 31 hari, pasti semua bisa terselesaikan secara maksimal.” Tak dapat dipungkiri manusia akan dipaksa mengeluarkan jurus andalan berupa ‘jurus kepepet’. Berpedoman dari itu manusia dipukul tunduk untuk mereduksi waktu istirahat yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karenanya, jam biologi tubuh yang terlanjur berantakan pun akan berubah menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bermuara pada kesehatan tubuh yang terancam.

Beginilah potret manusia yang hanya membaca prediksi jangka pendek tanpa prediksi jangka panjang. Bahkan cenderung menganut mindset “Bagaimana nanti saja!” bukannya “Bagaimana dengan nanti?”. Alhasil, secara tak sadar kita memimpin diri sendiri menjadi koruptor waktu, tenaga dan juga pikiran. Bayangkan saja, jika untuk memimpin 1 kepala saja tak mampu, apalagi memimpin ratusan bahkan jutaan kepala di luar sana.

Maka dari itu, mulailah dari diri kita sendiri untuk menjadi pemimpin yang amanat dan bijaksana. Sosok pemimpin tersebut sebenarnya bisa dimiliki oleh siapapun. Karena yang terpenting dia memiliki pola pikir bermodel “out of box” atau mungkin “out of room”.

Pola pikir ini mengantarkan kita untuk memiliki sudut pandang yang berbeda dan kritis. Sudut pandang yang tak biasa diambil oleh orang banyak (unik), dengan membuang asumsiyang tidak relevan namun tidak keluar dari nilai norma dan menghilangkan mental kolonial yang selama ini melekat pada anak bangsa. Maka dari itu akan lahirlah ide-ide yang kreatif dan inovatif baik dari segi teori maupun teknis. Karena jika hanya teori yang dianut tanpa ada teknis, itu sama saja ide kita hanyalah “kicauan emosional”. Apalah arti sebuah ide jika hanya tersimpan di dalam otak tanpa diimplikasikan dalam dunia nyata.  Oleh karenanya ide ini harus disuplemen dengan percaya diri dan keberanian.

Kawan, mari kita berbenah diri dimulai dari yang kecil, yaitu diri sendiri. Karena seperti seorang tokoh yang saya idolakan berkata:
Kalau anda ingin merubah sesuatu jadilah perubahan itu sendiri.

Kawan, jika bukan hari ini, akan dibawa kemanakah hari ini dan masa depan kita? 
Kawan, jika bukan kita, siapa lagi yang akan menyelamatkan masa depan anak dan cucu kita?

post signature