Kamis, 08 Desember 2011

Kamis, Desember 08, 2011 - 1 comment

Evolusi Ubur-Ubur (Mastigias papua)

EVOLUSI
UBUR-UBUR (Mastigias papua) YANG KEHILANGAN SENGAT RACUN
  

1. Asal Usul Danau Kakaban “Danau Ubur-ubur”

 Salah satu pulau Indonesia yang tak berpenghuni ini berada di Laut Sulawesi, tepatnya di sebelah Utara Semenanjung Sangkulirang. Aset wisata negara ini terletak tak jauh dari Taman Nasional Kutai di Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Keunikan akan danau yang bernama serupa dengan nama pulaunya itu menjadi daya pikat banyak pasangan mata wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Danau yang berair payau ini mampu menawarkan biota laut yang siapun pun melihatnya akan takjub oleh keunikannya itu. Bagaimana tidak, beberapa jenis makhluk hidup yang umumnya berdomisili di laut telah hadir menghiasi danau kakaban. Seperti ubur-ubur, alga laut, anemon laut, spons, timun laut (teripang) dan tak ketinggalan pula jenis ikan-ikan kecil lainnya. Keanehan tersebutlah yang menjadi keunikan dari danau kakaban. Oleh karena itu, sejarah terbentuknya danau ini pun tak lepas dari sorotan penikmat alam. 

Terbentuknya danau kakaban bermula dari 2 juta tahun lebih yang lalu. Ketika danau tersebut merupakan laguna dari sebuah atol yang terbentuk dari karang. Pada jaman itu telah terjadi sebuah proses pengangkatan selama beberapa ribu tahun yang mengakibatkan terumbu karang di sekelilingnya naik di atas permukaan laut. Selain itu, danau yang berisi air laut terbentuk dari 5 km2 air laut yang terperangkap di dalam pematang dengan ketinggian 50 m. Kemudian ditambah air dari dalam tanah dan air hujan sejak sekian lama. Akibatnya, semua makhluk hidup yang terperangkap pun beradaptasi selama beribu-ribu tahun yang lalu dengan lingkungan barunya itu.

Pemandangan danau kakaban disuguhi oleh oleh pohon-pohon bakau dan pohon-pohon lebat lainnya yang mengelilingi pulau. Terumbu karang yang menurun nan curam mengahadap langsung ke laut sebagai bagian garis pantai Pulau Kakaban. Di dunia ini, ubur-ubur yang tak beracun hanya bisa ditemukan di dua tempat yakni di Danau Kakaban dan satu lagi di Palau, Kepulauan Mikronesia. Keduanya merupakan danau berair payau. Namun, Danau Kakaban koleksi ubur uburnya lebih kaya.


 Ikon yang menjadi pusat sorotan dari danau kakaban adalah ubur-uburnya yang sama sekali tidak beracun. Jelas berbeda dengan ubur-ubur pada umumnya. Menurut Menteri Kehutanan, membeberkan bahwa ubur-ubur tak beracun adalah endemik yang berasal dari danau berair payau atau danau ubur-ubur di Pulau Kakaban, Kalimantan Timur. Jenis ubur-ubur tersebut memang tidak memiliki sengat beracun antara lain, Cassiopea ornata, Aurelia aurita, Triedalia cystophora, dan Mastigias papua. Hasil evolusi tersebut terjadi akibat adanya isolasi di danau air asin karena tidak adanya hewan pemangsa atau predator. Ubur-ubur seperti ini diakibatkan adanya proses evolusi yang cukup lama oleh air hujan dan air tanah, dimana air danau disini menjadi lebih tawar dibandingkan air laut yang ada di sekitarnya. Dampaknya pada adaptasi hewan laut di dalamny, khususnya spesies ubur-ubur Mastigias papua.
  
2. Perbandingan Karakteristik Ubur-ubur (Mastigias papua)

KARAKTERISTIK
Ubur-ubur Pada Umumnya
Ubur-ubur Danau Kakaban
Kebanyakan ubur-ubur hidup di laut (perairan), yaitu dari pantai hingga dasar laut.
Ubur-ubur yang berada di Danau Kakaban hidup di air yang lebih tawar dibandingkan dengan air laut d sekelilingnya.
Keistimewaan dari ubur-ubur adalah Sel penyengat (nematosit) yang berada pada tentakelnya dan berfungsi untuk beberapa aktivias ubur-ubur seperti pergerakan, menangkap mangsa serta pertahan diri. Nemato atau sel penyengat adalah struktur intraseluler paling besar dan kompleks. Racun dari mematosis bervariasi dan neurotoksin adalah yang paling sering muncul.
Dikarenakan adanya perbedaan ekosistem air, daya sengat yang dimiliki oleh ubur-ubur menjadi turun atau bahkan hilang. Demi mempertahankan hidup, mereka (ubur-ubur) berevolusi dengan mengikuti perubahan ekosistem di sekitarnya. Perangkat organ penghasil racun yang ditemukan pada ubur-ubur yang hidup di air laut dengan kepekatan garam pun musnah.
Ubur-ubur termasuk ke dalam bangsa karnivora. Makanan ubur-ubur terdiri atas berbagai macam hewan, mulai dari jenis zooplankton hingga ikan yang ditangkapya dengan tentakel yang dilengkapi banyak nematosis.

Ubur-ubur tersebut cenderung pasif atau berdiam diri dengan bukaan payungnya yang terbalik menghadap ke atas dan membiarkan tentakelnya yang penuh alga simbion untuk fotosintetis. Prilaku ini merupakan perilaku “memelihara” simbion dalam tubuhnya berupa mikroalga yang hidup dalam jaringan. Hal ini merupakan aksi simbiosis yang saling memberi keuntungan. Mikroalga dapat menggunakan produk metabolik (CO2) dari ubur-ubur, sebaliknya ubur-ubur dapat menggunakan oksigen yang dihasilkan dari fotosintesis mikroalga.

Menurut para ahli, Beribu-ribu tahun diperlukan untuk suatu proses evolusi dari suatu bentuk kehidupan yang lebih kompleks dimana ini hal ini bisa terjadi hanya di laut tanpa adanya kehidupan yang bersaingan.
             
              Satu fenomena yang paling menarik di danau ubur-ubur adalah migrasi vertical harian pada Mastigias papua. Diketahui bahwa migrasi vertical Mastigias papua merupakan bentuk tingkah laku dalam beradapatasi dalam fasilitas penambahan zooxanthellae. Hal ini dibuktikan di Palau bahwa Mastigias papua dapat bertoleransi dan menahan ammonium yang berkonsentrasi tinggi di atas anoxic chemocline (Tomascik and Mah, 1994). 

              Ini merupakan adaptasi yang cukup unik, khususnya adalah migrasi horisontal harian oleh Mastigias, kepadatan tinggi dan tumbuhan yang tetap hijau hadir di antara spesies ubur-ubur, dan tertutupnya sifat alami dari ekosistem ini, dimana ubur-ubur merupakan planktivores teratas, membuat danau laut menjadi tempat yang sangat menarik dalam satu jangkauan dari ekologis dan evolusiner investigasi. Mastigias dapat sedikit menyengat manusia dan membunuh mangsa mikroskopik, mereka bersimbiotik dengan zooxanthellae dan mereka telah terisolasi pada danau ± 20.000 tahun yang lalu. Beberapa danau laut tropis di Palau terdapat populasi perrenial yang sangat banyak dari dua ubur-ubur Scyphozoan: ubur-ubur keemasan (Mastigias sp), dan moonjellyfish (Aurelia sp). Medusae keemasan (Mastigias sp) memiliki tingkah laku, morfologi dan fisiologi yang merupakan hasil dari manisfestasi atau perwujudan evolusi ekosistem yang terisolasi ribuan tahun yang lalu. (Dawson et al, 2001).

1 komentar:

Posting Komentar