Rabu, 03 Oktober 2012

Rabu, Oktober 03, 2012 - 2 comments

Ketika Suatu Kesamaan 'Menggaet' Perbedaan












Ada hitam, ada putih.
Ketika jahat pergi, maka datanglah kebajikan.
Begitu juga ketika dibalik kesamaan tentu terselip sebuah perbedaaan.

Lihat pelangi.
Memang, akhir-akhir ini kuakui tak pernah sedikitpun mengintip indahnya pelangi. Bukan karena ke 7  bidadari yang mungkin sedang malas mandi di sungai, tentu ada alasan non fiksi di balik tanya besar tentang 'si pelangi'.
Namun, terkadang ada pasukan gombal menyeru, "Aku tak perlu melihat pelangi, karena aku mampu melihat pelangi setiap saat dan kapanpun di raut wajahmu."  


Hhhssss,
Kalau sekarang kita berimajinasi. Indah manakah, pelangi dengan 7 warna atau pelangi dengan 1 warna? Aku lebih memilih pelangi dengan 7 warna. Justru dengan adanya perbedaan itulah, pelangi menjadi panorama terindah ketika hujan melambaikan tangan untuk pergi. Berbeda dengan nasib pelangi 1 warna, rasanya hambar untuk lama-lama melihatnya. Lantas apakah yang membuat kata 'indah' keluar dari mulut kita tentang paradigma sebuah pelangi?

Karena 7 warna itu saling melengkapi yang tidak dimiliki di antara mereka. Kuning. Dia tampak menyilaukan bagi mata yang melihatnya. Namun berkat pancaran warna biru yang sedikit meredup, membuat siapapun yang memandangnya akan sedikit melepas lega dari kesialauan. Tersirat unsur 'balance' diantara spektrum -spektrum tersebut. Tak ada rasa jenuh untuk lagi, lagi dan lagi melihat 'si pelangi'.


Bergitupun kita, antara 1 orang dengan yang orang yang lainnya. "Aku nampak sangatlah berbeda denganmu, kau punya segalanya dan aku tidak." Selalu saja, perbedaan menjadi 'kambing hitam' sebagai pemicu konflik, entah konflik fisik maupun batin .

Tak hanya konflik, terkadang perbedaan menjadi alasan untuk menghambat seseorang dalam menuntaskan keinginan terpendamnya. Tiba-tiba hatinya yang dulu sekuat baja, kini menciut bagai plastik. Sepertinya 'perbedaan' perlu diberi applause. Dia mampu mengendalikan keadaan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Sungguh ironis rasanya.

Kini, aku hanya ingin seperti pelangi.
Ketika perbedaan bukan menjadi satu-satunya alasan untuk membatasi apapun.
Kelak, hidup ini akan indah dengan hiasan dari manik-manik perbedaan yang kita miliki. Tunjukkan pada dunia, bahwa kita mampu memalingkan dunia dengan perbedaan kita. Perbedaan akan hadir saling melengkapi diantara celah-celah ketika jenuh kian melanda. Dengan perbedaan kita akan menjadi kuat, karena sebelumnya kita telah diuji dengan usaha untuk merekatkan diantara manik-manik perbedaan menjadi satu kesatuan. Dan kita akan menyerukan:

"Karena perbedaan kita menjadi lebih kuat, dengan kekuatan kita menjadi jauh lebih Indah"
  


post signature



2 komentar:

berbeda itu indah, gan. coba kalo kesemuanya dciptakan sama, pasti membosankan, bukan?

betul bgt. bosen, jenuh, bkin flat jg. dan pelangi sudah mewakilkan ketika perbedaan begitu indah.. :)

Posting Komentar