Jumat, 29 Agustus 2014

Jumat, Agustus 29, 2014 - 2 comments

Surat Untuknya

Assalamualaikum wahai jodohku, wahai calon suamiku dan calon ayah dari anak yang kelak aku lahirkan dari rahimku.

Bagaimana kabarmu disana, wahai jodohku? Ku harap kau dalam keadaan baik-baik saja. Sehat walafiat dan selalu dalam lindungan Sang Maha Kuasa. Amin…

Apa yang sedang kau lakukan sekarang duhai calon pendampingku? Apakah kita sedang melalukan hal yang sama? Menatap satu langit dengan hiasan bintang yang berkelip? Walaupun kita berada di tanah pijakan yang berbeda...??? Ehm.. Entahlah…

Kau tau, aku sedang dilanda sebuah kerinduan yang begitu mendalam, bukan kegelisahan. Apakah kau juga seperti itu? Ku harap kau pun seperti itu, merasakan hal sama denganku. Hahaha. Aku rindu sekali. Aku rindu menunggu suatu masa itu tiba. Suatu masa yang pasti kau idam-idamkan, begitu juga dengan aku.

Ketika masa lalu adalah sebuah masa kini dan masa datang yang telah terlewati. Masa kini adalah masa datang yang menjadi sebuah masa yang didamba-dambakan kehadirannya, setelah melewati masa lalu. Dan Masa depan adalah sebuah rahasia. So simple but it's so mystery :)

Kau pun pasti sudah tau. Masa depan siapalah yang tau. Terkecuali Allah SWT Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Taukah kau, terkadang ketika aku belum juga terlelap dalam tidur. Aku sering memandang langit-langit kamar yang redup karena lampunya sengaja aku matikan. Sambil berpikir, bagaimana masa depanku kelak. Aku memang memiliki deretan 35 mimpi yang aku pajang di dinding kamarku. Apakah  itu semua bisa tercapai. Wallahu a'lam. Sebelum aku terlahir dari rahim mamah dan diadzankan oleh bapak, semua jalan hidupku memang sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz. 

Dan tanpa tersadar aku sudah terbangun saat udara shubuh menggelitik mataku. Tiba-tiba entah ada angin darimana asalnya, aku langsung bergumam seperti ini: Sebelah kanan hanya ada guling dan di sebelah kiri hanya ada boneka yang terhampar. Seneng kali yak kalo sebelum terlelap dalam tidur yang kupandang terakhir adalah wajah suamiku, yang lelah seharian mencari nafkah. Begitu juga ketika aku terbangun di waktu pagi, memandang wajah suamiku yang siap mengimamiku di sholat shubuh. Yang kucium lembut telapak tangannya setelah aku menjadi makmum 1 shaf di belakangnya.

Suami, sang imam, pangeran cinta ataupun jodoh dunia akhirat adalah sebuah misteri. Sebuah rahasia Allah SWT. Andai aku bisa mengintip rahasia itu. Siapakah kamu, seperti apakah kamu dan dimanakah kamu sekarang, berada di dekatku atau kah jauh disana. Hmmm entahlah. Aku hanya bisa berikhtiar dengan berdoa dan menantimu dengan sabar dan istiqomah, Insyaalloh. 

Kau tau, sembari menunggumu datang, aku pun mengiringinya dengan memperbaiki segala akhlak dan perilaku selama ini. Agar kau tidak kecewa saat masa itu tiba. Amin.

Agar aku bisa menjadi....
Wanita yang kau sebut namanya, saat kau memantapkan niatmu dihadapan bapakku, hadirin dan ribuan malaikat yang turun dari langit untuk ikut membantu meng'AMIN'kan ijabmu.
Wanita yang memiliki posisi nomer 2 setelah ibumu yang harus kuucapkan terimakasih telah melahirkanmu untuk mendampingiku di dunia dan di akhirat. 
Wanita yang memiliki kesempatan untuk melahirkan anak-anak hebatmu dari rahimku dan membesarkan serta membimbing mereka hingga menjadi kebanggan bersama.
Wanita yang walau bukan lulusan psikologi ataupun hukum tetapi bisa menjadi penampung, penasehat dan pendengar tiap keluh kesahmu di luar istana kecil kita.
Wanita yang kau kecup keningnya dan kucium telapak tanganmu sebelum kau pergi menunaikan kewajibanmu sebagai kepala rumah tangga dan kewajibanku sebagai ibu rumah tangga.
Wanita yang kau percaya mampu menjaga rumah beserta kehormatanku dan dirimu sebagai suami selama kau tak ada di rumah.
Wanita yang kau beri kesempatan untuk berada disampingmu sebagai partner hidupmu. Dan berada dibelakangmu sebagai pendukung disetiap langkah-langkah di jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.
Wanita yang kau terima bakti tulusnya sebagai istri walau aku masih berada dalam kekurangan dan ketiada sempurnaanku, karena kau lah yang akan menyempurnakannya. Amin.
Wanita yang kau yakini menjadi amanat dari Allah SWT dan orang tuaku untuk kau cintai dan sayangi. Dengan membimbingku langkah demi langkah menuju Ridho Allah SWT serta surga-Nya.

Baiklah... mungkin seperti itu yang bisa kutuliskan untukmu. Sampai berjumpa di suatu masa yang telah dituliskan oleh Allah SWT. 

 


post signature

2 komentar:

Semoga yg menjadi harapan terlaksana dan diridhoi ALLAH SWT. Amin2 Ya Robbal'alamin..

Isi tulisanmu bagus banget ran., :)

Good job rani buat tulisannya...
keren bgt lah..

Posting Komentar